Showing posts with label ceplas-ceplos. Show all posts
Showing posts with label ceplas-ceplos. Show all posts

Friday, September 26, 2014

Gaya Hidup Vs Biaya Hidup

Saya ingin berbagi tentang sebuat kisah menarik yang patut disimak, terutama bagi yang selalu merasa gajinya/uang bulanannya tidak pernah cukup. Tapi, sebelumnya saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya.

Dulu pernah ada seorang rekan kerja yang bilang ke saya "Ah, elo mah enak bokap nyokap lo tajir" atau "elo mah tajir, duitnya banyak". Saya hanya bisa tersenyum dan mengaminkan perkataan tersebut (semoga rezeki saya & orang tua saya makin melimpah dan berkah) setiap kali ada orang yang berkata seperti itu, karena memang seringkali orang mengatakan hal itu kepada saya jika mereka tau pekerjaan orang tua saya.

Padahal sejak saya bekerja, saya sama sekali tidak pernah meminta atau menerima uang sepeser pun dari kedua orang tua saya. Begitu juga saat kuliah dulu, sejujurnya uang bulanan saya seringkali habis saya gunakan untuk kebutuhan kuliah, organisasi, dan juga obat-obatan herbal untuk kesehatan saya (nggak perlu saya bilang obat untuk apa ya) dan saya tidak pernah meminta uang lebihan. Tapi sesekali alhamdulillah saya masih bisa nraktir teman-teman kosan atau jalan-jalan bareng sahabat-sahabat tercinta. Jadi kalau ada cerita anak kosan yang pernah mengalami sisa uang tinggal Rp.5.000,- untuk kebutuhan satu minggu.. ya, saya juga mengalami itu.

Penghasilan yang saya dapat dari gaji memang tidak begitu besar, sama dengan rekan-rekan kerja saya yang lainnya. Tapi alhamdulillah dengan gaji yang seadanya itu saya masih bisa nabung, mentraktir adik-adik, shopping, dan isi bensin pakai pertamax (bukan sombong ya, cuma mau berbagi aja). Orang-orang hanya melihat seakan-akan saya punya banyak uang untuk saya hambur-hamburkan karena dapat kucuran uang dari kedua orang tua, padahal semua itu kuncinya ada di gaya hidup dan pengaturan keuangan. Saya bisa seperti itu karena saya rajin menabung dan saya alokasikan semua uang yang saya punya dengan sebijak mungkin. Nggak asal.

Kalau diperhatikan, seringkali orang itu banyak yang menggunakan uang layaknya sungai yang mengalir. Setelah gajian langsung dipakai ini-itu tanpa perencanaan yang matang tentang keuangan. Yang ada, baru pertengahan bulan kondisi keuangan sudah mendekati sekarat dan di akhir bulan napas berubah jadi kembang-kempis ibarat orang sakaratul maut kali ya.

Saya heran kalau melihat orang yang gajinya tidak seberapa tapi doyannya jalan-jalan, shopping, gonta-ganti gadget, dll. Kendaraan dimodif-modif yg efeknya jadi lebih boros bensin, lebih mementingkan penampilan ketimbang hidup hemat berkecukupan. Giliran duit habis malah ngomel-ngomel nyalahin perusahaan karena ngasih gajinya cuma sedikit. Tabungan pun nggak ada.

Kalau gaji belum terlalu besar ya jangan sering jajan-jajan atau hidup bermewah-mewahlah. Having fun itu memang perlu, tapi kalau penghasilan masih belum begitu besar ya cukup sekali-kali aja. Dibatasi misalnya sekali dalam sebulan.

Saya pribadi selalu mengusahakan sarapan di rumah dan membawa bekal dari rumah untuk makan siang. Bekalnya pun cukup sederhana dan seadanya. Tahu, tempe, telur, sesekali ayam atau ikan. Kemudian saya alokasikan minimal 20% dari penghasilan untuk nabung, sedekah setidaknya 2.5 - 5%, bensin & parkir untuk satu bulan, pulsa HP untuk satu bulan, depresiasi biaya service motor untuk dua bulan, dll. Sisanya barulah digunakan untuk biaya having fun atau jajan sekali-sekali. Namanya juga sisa, jadi nggak banyak-banyak. Kalau saya selalu menyediakan biaya khusus untuk having fun bareng teman dan juga having fun (nraktir) adik-adik. Tapi tetap di-budget, jadi nggak bakal over. Kalaupun mau having fun yang butuh biaya gede (misal: ngadain perjalanan liburan) berarti harus nabung (mengakumulasikan budget having fun) beberapa bulan.

Jadi sebenarnya kunci dari segalanya itu tergantung pada GAYA HIDUP dan syukur. Kalau dari kitanya aja nggak pernah syukur, gimana mau berasa cukup?! Ingat, Allah akan menambah nikmat pada kita jika kita bersyukur.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih" (QS. Ibrahim:7)
Semoga kita bisa menjadi lebih bijak dalam mengalokasikan keuangan kita dan semoga Allah selalu mencukupkan segala kebutuhan kita.. Aamiiin

Sekarang, silahkan disimak kisah dalam sebuah tulisan berjudul Pelajaran Berharga dari Seorang OB. Semoga sobat sekalian bisa mengambil hikmahnya. 

Wednesday, May 21, 2014

Berproses dalam Hidup

Malam ini saya mau sedikit berbagi tentang apa itu berproses dalam hidup saya. Saya dapat inspirasi untuk membuat tulisan ini hasil dari kegiatan rapih-rapih blog yang baru aja beres. Jadi bukan cuma rumah atau kosan aja yang perlu dirapihin, blog juga perlu dirapihin.. Ibaratnya para pembaca itu adalah tamu dan saya sebagai penulis adalah tuan rumah. Jadi saya pengen aja gitu orang-orang yang berkunjung ke blog ini betah alias nyaman.

Nah! Dari kegiatan rapih-rapih itu ternyata mengharuskan saya untuk berinteraksi kembali dengan tulisan-tulisan lama saya. Ternyata ada tulisan-tulisan dengan gaya AL4y ABG. Saya sampai kaget sendiri, "Wow! Seriously?! Yeah, That was me!"..hahhaa. Huruf-huruf itu sengaja nggak saya edit biar sewaktu-waktu bisa mengingatkan saya kembali tentang masa-masa ABG saya yang AL4y.. (n_n)

Saya juga terheran-heran dengan tulisan-tulisan saya yang banyak mengingatkan pada pengalaman pahit di masa-masa SMA yang pernah saya alami, mulai dari kisah persahabatan, keluarga, sampai penyakit. Jujur saya sudah lupa, terutama dengan peristiwa yang paling menyayat hati. Dulu tiap kali saya teringat peristiwa itu rasanya hati saya sakit bagaikan ditusuk-tusuk paku. Bisa dibilang itu adalah fase tersulit dalam hidup saya yang rasanya kepingin banget buat berontak. Mungkin karena pada saat itu pun memang masih masa-masa pencarian jati diri juga ya. Jadi masih ababil.

Saya memang bisa saja saat itu berontak dan berlari ke jalur yang salah. Tapi saya bersyukur karena Allah masih membimbing saya sehingga saya nggak sampai masuk ke jalur yang salah layaknya anak-anak bermasalah pada umumnya. Ini pun berkaitan dengan sebuah pilihan sebenarnya. Apakah saat kita menghadapi masalah kita mau melakukan sesuatu yang nantinya akan merugikan diri sendiri atau justru memilih bertahan pada jalur yang baik. Dulu saya melampiaskan semua permasalahan itu adalah melalui hobi. Berhubung saya suka banget sama olahraga, jadi saya aktif di klub taekwondo juga futsal perempuan. Hampir satu sekolahan tahu bahwa siswi tomboy berkerudung dengan behel yang jadi kapten futsal perempuan itu adalah saya. Tapi kalau sekarang saya bershilaturrahim ke SMA, nggak akan ada yang percaya bahwa dulu saya adalah kapten futsal dan ketua ekskul taekwondo.. hahhaa

Pasti banyak yang nggak nyangka kalau saya itu dulu tomboy banget. Kayak preman deh pokoknya. Mungkin orang lain cuma bisa geleng-geleng kalau ngelihat saya.. hehe. Makanya pas saya berubah untuk berkomitmen pakai rok dan busana yang lebih muslimah itu semuanya pada heboh alias shock, tanpa terkecuali. "Wiih! Syifa jadi cewek sekarang", emang menurut lo dulu apaan?. "Beuh! Jadi akhwat dia. Ukhti-ukhti..", dari dulu juga saya emang akhwat kelleeuuuss masa ikhwan. "Syifa?! Lo pakai rok sekarang?!", berasa saya pakai apa aja gtu ya. Terus ada juga yang bilang kalau saya ini mirip kayak perempuan-perempuan teroris yang waktu itu lagi booming. Mendengar kata-kata itu rasanya tuh JLEB banget. Padahal jauh banget bedanya.. hikshiks.

Tapi mungkin karena waktu itu di lingkungan tempat saya tinggal memang masih limited edition banget perempuan yang memakai jilbab panjang dan rok, jadinya itu dirasakan sebagai sesuatu yang gimana gitu. Saya anggap saja itu maklum, tetap positive thinking aja, dan lebih memantapkan hati kembali. Aahh.. nggak boleh goyah. Okay, mungkin saya berbeda. Tapi apa yang salah kalau kita berbeda dalam kebaikan? Justru itulah yang harus diperjuangkan. Lalu saya berpikir bahwa mungkin justru karena hal inilah semakin sedikit orang-orang yang berani tampil beda atau melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakuan orang lain dalam kebaikan. Banyak orang yang jadinya hanya ikut-ikutan, memilih jalan yang banyak dilalui orang pada umumnya, meski jalan itu tidak sesuai atau kurang tepat.

Semua selentingan yang ada nggak pernah saya hiraukan. Cukup saya berikan mereka senyuman termanis dari wajah saya.. hihhiii. Sekarang pun mereka udah terbiasa koq akhirnya. Jadi, semua itu hanya soal waktu. Banyak orang yang mau berubah itu terlalu banyak mikir tentang respon dan "apa kata orang nanti?". Itu mah nggak perlu dipikirin. Apalah artinya kata orang (pandangan manusia)? Yang penting itu pandangan Allah koq. Selama perubahan yang kita niatkan itu adalah kebaikan, lakukanlah. Perihal respon (ejekan, tentangan, dll) dari orang lain itu cuma masalah waktu yang pada akhirnya mereka pun akan terbiasa dengan perubahan kita. Mereka cuma butuh adaptasi koq. Jadikan saja itu sebagai tantangannya, karena Allah pun menguji keistiqamahan seseorang dengan memberikan kondisi-kondisi yang terbalik atau bertentangan. Kalau di awal-awal ujian aja udah nyerah, gimana mau survive?

Lanjut cerita tentang masa-masa sulit waktu SMA, saya berusaha belajar sedikit demi sedikit, merenung, dan mengambil hikmah. Saya nggak pernah curhat ke orang, jadi saya berusaha survive sendiri, termasuk dalam hal pengobatan penyakit saya yang cukup menguras uang saku.. hihhiii. Tapi walau banyak menguras uang saku, saya heran kenapa saya nggak kurus-kurus ya waktu itu? Eh, apa kurus terus jadi gemuk ya? Yaudah siihh nggak penting juga kan itu.. he. Nah lanjut cerita, dalam keadaan si saya yang mencoba buat survive sendiri itu, saya punya tekad bahwa saya harus keluar dari belenggu kesedihan yang nggak karuan dan menjadi pribadi yang setidaknya lebih baik. Istilahnya membuka lembaran baru deh. Transformasi itu saya lakukan mulai dari awal masuk kuliah. Saya cari-cari tahu tentang LDK yang ada di kampus, rutin mendengarkan siaran radio MQ FM, dan aktif di DKM yang ada di dekat kosan.

Luar biasanya Allah ngasih saya banyak banget jalan. Seolah-olah tuh kayak dipermudah. Saya dipertemukan dengan UKM/LDK Gamus yang banyak banget jasanya dalam membina karakter saya, sampai-sampai saya ngerasa nggak tega banget kalau harus benar-benar meninggalkan dia gitu aja. Rasanya saya sudah terlalu sayang dengan organisasi itu dan segala kenangannya. Di Gamus saya bertemu dengan sahabat, kakak, dan adik yang entahlah.. undefined. Pokoknya sesuatu banget. Terus saya dipertemukan juga dengan DKM Baabul Firdaus yang banyak mengajarkan saya tentang makna sebuah persaudaraan dan terakhir saya dipertemukan dengan Bekam & Ruqyah Center dari siaran MQ FM yang alhamdulillah membantu saya bisa jadi lebih sehat lewat terapi bekam dan herbalnya.

Coba deh pikir, masa iya bisa kebetulan tiba-tiba ada jalan tapi sekaligus satu paket gitu. Seakan semua masalah saya langsung ada jalan keluarnya. Kalau direnungkan kembali, semua pertemuan itu nggak akan bisa terjadi gitu aja tanpa izin dan kekuasaan Allah. Dari proses transformasi itu saya mendapatkan suatu pelajaran bahwa memang benar pribahasa yang mengatakan "Dimana ada kemauan, disitu ada jalan". Tapi kemauan di sini bukan hanya kemauan, melainkan juga disertai dengan aksi (ex: ikut banyak kajian/ seminar/ organisasi untuk mengembangkan potensi dan karakter, buat akhwat yang mau belajar pakai rok dan jilbab syar'i langsung aja pakai). Percuma aja kalau kitanya udah mau, tapi buat usaha atau aksinya nggak ada. So, kalau emang ada niatan baik untuk bertransformasi ke arah yang lebih baik, jangan ditunda-tunda. Nggak perlu banyak ini-itu, langsung Take Action. Semakin ditunda-tunda, semakin mudah lah syetan menipu daya kita dengan menanamkan pikiran-pikiran aneh yang semakin membuat kita ragu untuk memulai melalui bisikan-bisikannya. Seolah-olah banyak kondisi yang nggak memungkinkan, padahal mah biasa aja. "Mau gini tapi blablabla, nanti deh kalau udah blablabla". Yang ada makin lama ditunda, makin banyak pula kata "tapi" dan "nanti". Alhasil nggak tau sampai kapan..

Sekarang saya sudah lulus, sudah jadi alumni, dan jadi kakak dari banyak adik-adik. InsyaAllah udah nggak galau-galau lagi dan ya.. This is my now, gitu ceunah mah kalau kata Jordin Sparks si american idol.

Tapi ini juga belum selesai. Belum ada apa-apanya juga. Perjalanan masih panjang dan transformasi itu harus terus berjalan. Tidak ada kata berhenti sampai tiba saatnya kita kembali pada-Nya.

Bersyukur juga punya blog. Padahal dulu itu saya juga nggak suka-suka banget nulis. Ternyata tulisan-tulisan itu bukan sekedar tulisan. Ia adalah bagian dari memori, ia juga bagian dari nasihat untuk diri sendiri.

Eh iya, selain cerita tentang transformasi diri saya, saya juga mau cerita sekilas tentang transformasi beberapa adik-adik saya di Gamus. Adik-adik saya itu macam-macam. Ada yang dulu pendiam banget sama persis kayak saya jaman baheula, ada juga yang galau banget, ada yang entah gemingnya seakan tak terdengar. Terus mereka bertransformasi menjadi sosok yang menurut saya amazing. Kalau saya perhatikan jalan ceritanya, mereka pun melalui proses yang panjang. Mengaplikasikan niat baik yang mereka punya dengan aksi-aksinya. Ikut seminar-seminar, kepanitiaan, lomba, training, dsb. Terus saya jadi teringat sama lagunya Taylor Swift yang "Everything Has Changed" (*apasiihh). Saya benar-benar kagum dengan mereka yang bisa bertransformasi seperti itu. Mereka membuat saya berpikir "Apakah transformasi saya sudah sejauh mereka?!". Saya hanya berharap, semoga saya bisa terus bertransformasi ke arah yang positif. Mungkin tak sehebat mereka, tapi setidaknya menjadi pribadi yang sedikit-demi sedikit semakin menjadi lebih baik dan terus menebar manfaat.

Sunday, March 09, 2014

Antara yang Muda dan yang Lebih Tua

Pagi ini saya jogging bersama adik perempuan tersayang. Ceritanya dia mau latihan biar staminanya bagus kalau ambil nilai atletik. Setelah jalan beberapa meter dari rumah saya ajak dia mulai berlari, "Dek, lari yukk!" dan dia pun langsung berlari penuh dengan semangat dan langkah yang besar.. swing.. swing..

Saya sampe kaget dan kemudian mencoba mengarahkan, "Dek, kalau jogging jangan cepet-cepet biar staminanya ke-manage. Apalagi baru awal-awal. Kalo jogging beda tekniknya sama sprint".

Tapi yang terjadi adalah dia tetap berlari penuh semangat seakan menunjukkan kekuatannya dan nggak akan kenapa-kenapa. Padahal sebelumnya pun kita nggak pemanasan dulu waktu masih di rumah. Tiba-tiba nggak jauh dari tempat start kita berlari kecepatannya menurun dan bahkan tertinggal. Mukanya terlihat begitu kelelahan dan ia berjalan agak pincang. "Tuh kan udah langsung capek", saya menghampiri dia. Ternyata selain kelelahan, kaki kirinya mengalami salah urat. Berhubung saya nggak mungkin ninggalin dia, alhasil kita jalan deh sampai tempat tujuan.

Cerita ini mengingatkan saya tentang realita kehidupan antara kaum muda dan tua. Darah muda itu darah yang penuh semangat bahkan berapi-api. Saking semangatnya terkadang membuat langkahnya begitu terburu-buru, kurang pertimbangan, dan lebih banyak maunya. Ekstremnya, sampai ada pemikiran bahwa "Apa sih itu para pemuda banyak maunya, padahal tau apa mereka?! Kondisi sebenernya di lapangan kan mereka nggak tau". Ya, karena mereka memang belum banyak pengalaman. So, mereka memang butuh diarahkan. Bukan dikekang loh ya, tapi diarahkan. Sementara yang lebih tua sudah merasakan lebih banyak manis-asam garam melangkah penuh dengan kehati-hatian. Saking hati-hatinya terkadang malah membuatnya takut untuk menentukan langkah baru alias berinovasi. Dikit-dikit bilang nggak bisa, dikit-dikit bilang nggak bisa. Maunya yang lurus-lurus aja lah pokonya mah.

Seringkali nasihat-nasihat dari yang lebih tua itu dianggap old fashion oleh yang muda karena terlalu banyak ini-itu. Padahal, mereka yang lebih tua memberikan arahan/nasihat pun tidak sembarangan, melainkan berdasarkan pengalaman yang pernah mereka alami. Alhasil, tidak jarang kesalahan yang dikhawatirkan oleh mereka yang lebih tua pun dilakukan oleh si muda. Tapi tulisan ini bukan untuk memojokkan kaum muda loh ya karena saya pun masih muda koq..hehe (maksa, nyadar umur woii)

Para pemuda yang seringkali melakukan kesalahan, bukan berarti tidak ada yang bisa dicontoh dari diri mereka. Nyatanya semangat dan keberanian mereka untuk melangkah/mencoba hal baru adalah hal yang patut kita contoh dari para kaum muda. Saat yang tua merasa takut dengan segala kemungkinan kegagalan dengan sejuta pertimbangan, banyak hal baru yang justru muncul dari karya-karya para pemuda. Para pemuda itu semangatnya seakan merasa nggak takut mati. Masa-masa muda adalah masanya berkarya. Justru kesalahan yang dilakukan pada masa mudalah yang akan menjadi bekal berharga untuk kehidupan kita selanjutnya. Kayaknya rugi deh kalau waktu muda kita nggak pernah merasakan banyak kegagalan, karena itu berarti kita nggak mencoba banyak hal.. he. Sayang banget, Kawan. Jadi, kalau masih muda tapi hidup biasa-biasa aja kayaknya perlu dipertanyakan deh. Come on, Guys! Masa muda tuh jangan cuma belajar di sekolah/kampus terus pulang ke rumah. Isilah dengan kegiatan pelatihan-pelatihan, seminar, keorganisasian, atau sesuatu yang banyak memberikan manfaat, baik untuk diri sendiri maupun sekitar. Isi apa aja yang penting positif. Karena hal-hal seperti itulah yang akan membangun karakter. Kenapa? Karena di sekolah/kampus kita cuma belajar tentang ilmu pasti istilah kerennya itu hardskill. Sementara kegiatan keorganisasian, dsb. akan memberi kita pelajaran tentang softskill. Pemuda itu staminanya lebih kuat ketimbang yang lebih tua, lebih bugar. Sayang kalau energi yang banyak itu nggak kepake.

Tapi saya juga kurang setuju kalau para pemuda itu berkarya semaunya tanpa memperhatikan aturan/norma/etika yang berlaku dan kemudian meneriakkan, "Jangan batasi kami, biarkan kami berkarya!". Hello.. Kita ini hidup bukan di tanah milik pribadi, Kawan. Menurut saya aturan/norma/etika itu tetap harus dijunjung tinggi sebagai manusia yang berbudaya, terlebih lagi sebagai seorang muslim yang harus menjunjung tinggi akhlaqul karimah.

Sebagai pemuda, pikirkanlah saran yang diberikan oleh yang lebih tua dan hendaknya bisa mengontrol semangat yang dimiliki, jangan sampai terlepas tak terkendali layaknya kuda liar yang dilepaskan di tengah hutan. Jika tidak dikendalikan, maka semangat yang tak terkendali itu akan berubah menjadi amunisi berbahaya, yaitu hawa nafsu. Tidak ada hawa nafsu yang membawa kebaikan karena hawa nafsu hanya membawa kita pada kerusakan. Selama yang digunakan itu adalah hawa nafsu, saya yakin 100% hati dan akal pikiran kita akan mati.

Sementara itu, tugas yang lebih tua adalah selalu mengarahkan dan mendampingi mereka yang lebih muda. Tidak membiarkan mereka berjalan di depan tanpa arahan apalagi meninggalkan mereka di belakang. Kekhawatiran akan kesalahan yang dilakukan oleh para pemuda adalah hal yang wajar. Tapi janganlah kekhawatiran itu terlalu berlebihan yang justru malah mengekang mereka untuk berkarya. Bisa-bisa nanti setelah beres kuliah malah bingung mau ngapain, nggak tau dunia nyata itu kayak apa. Wong selama sekolah/kuliah taunya cuma belajar doang.. hehhee.

Saya pribadi termasuk orang yang banyak dikekang oleh orangtua (bukan curhat, hanya berbagi). Kalau dilihat dari niat orangtua saya sih memang bagus. Mereka nggak mau saya dibebani dengan pikiran-pikiran lain selain belajar, biar fokus. Tapi setelah beres kuliah pun saya malah merasa agak menyesal karena banyak hal-hal yang nggak saya lakukan. Saya ngerasa, "Ahh.. kenapa saya dulu nggak melakukan ini.. kenapa saya nggak melakukan itu..?". Meski dulu waktu kuliah, saya aktif berorganisasi di LDK. Tapi itu aja nggak cukup ternyata.. he.

Monday, February 10, 2014

Belum Optimis Kalau Masih Mikirin Kemungkinan Buruk. Really?


Beberapa hari yang lalu saya berasa de javu dengan suatu perbincangan. Kayaknya sih pertama kali saya mengalami perbincangan itu waktu di jaman kuliah dulu. Tapi saya lupa kasusnya ngebahas tentang apa, yang jelas mirip. Ceritanya sampai dengan sekarang saya lagi ngerjain project buku kenangan Gamus (nama LDK di kampus saya) bersama beberapa sahabat lainnya. Nah! Sesuai dengan rencana awal, buku kenangan itu akan kita upload terlebih dahulu versi digital-nya di sebuah situs dokumentasi dan kemudian di-launch di acara Temu Alumni Gamus, 31 Januari 2014 kemarin.

Kira-kira malam sebelum hari-H sang ketua tim meng-upload bagian buku kenangan yang besok akan di-launch. Tiba-tiba waktu kita tes buat melihat hasil upload-an itu langsung dari situs yang digunakan, ternyata nggak semua bagian bisa terbuka. Muncul lah perbincangan ini..

“Kang! Teh!.. Sample buku kenangan sudah di-upload. Tapi pas aku buka, ada beberapa halaman yang nggak muncul. Nggak tau yang salah komputer aku atau situsnya yang nggak support. Tapi kalau tetep kayak gitu juga, kita tampilkan dalam bentuk pdf aja kali ya?”, ucap sang ketua tim. Setelah saya cek, baik itu dibuka lewat handphone maupun lewat laptop hasilnya sama, banyak halaman yang nggak bisa kebuka. Anehnya sahabat saya yang satu lagi bilang kalau file nya bisa kebuka dengan baik (do’i buka pake handphone), entah itu dia baru buka bagian depannya apa emang beneran bisa kebuka dan muncul semua halamannya saya juga nggak tau..hehe. Berhubung didikan yang saya dapet dari my mom and my granny itu harus selalu sedia payung sebelum hujan, jadi saya langsung setuju sama ide sang ketua, “Prepare kemungkinan terburuk bawa pdf nya ya, Pak Ketua”.

Eh! Sahabat saya yang tadi malah bilang, “Nggak usah, bisa kebuka koq”. Tanpa bermaksud mendebat saya bilang lagi aja, “Prepare aja maksudnya, Pak. Kan apapun bisa terjadi”. “Nggak usah, percaya aja..hehehe”, jawab si do’i. Tapi finally setelah dia coba buka pake laptop ternyata baru deh dia bilang kalau nggak bisa kebuka semua. Yes.. yes.. saya menang #lohh. Bercanda deng. Nggak ada yang menang ataupun kalah koq.

Saya nulis ini cuma karena saya penasaran sekaligus mau memperkenalkan (bagi yang mungkin belum pernah ketemu dengan orang tipe ini) bahwa emang ada loh tipe orang yang optimis banget, yang saking yakin sama keoptimisannya, dia nggak mempersiapkan hal lain yang mungkin bisa terjadi. Saya tau optimis itu bagus banget dan semua orang pasti nggak bakal menyangkal itu. Tapi, apa iya harus segitunya sampai nggak mau prepare sama kemungkinan-kemungkinan lain?? Terkesan menggampangkan/menyepelekan #bukan ngejek.

Tapi setelah saya perhatikan, hebatnya mereka emang bisa spontanitas sih dan bisa jadi keuntungan tersendiri kalau mereka nge-handle suatu acara (misal: jadi MC atau EO). Tapi, lain halnya kalau berkaitan dengan alat. Kalau alat/aplikasi yang mau dipake rusak, yaudah wassalam. Contohnya kayak kasus saya di atas, yang setelah dicoba buka dari berbagai PC tetep nggak kebuka semua. Kalau si pak ketua nggak bawa versi pdf nya, bisa jadi kita cuma ngeliat lembaran-lembaran kosong waktu launch buku kenangan a.k.a nggak jadi launch.

Nah! Beda lagi nih sama tipe orang terstruktur kayak saya. Seriously, saya orangnya terstruktur banget. Kalau ngerencanain sesuatu pasti udah langsung bikin plan A, plan B, plan C. Saya jadi inget waktu saya jadi sekretaris di sebuah event kampus, yang sekaligus juga nge-handle perencanaan pengeluaran dana, saya bisa buat sampai dengan plan F.. edan euy. Kelebihannya, ya tipe orang yang terstruktur itu lebih siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Ada aja rencana dan idenya. Ibarat kalau perang itu udah bawa granat, shotgun, AK, bazoka, C-4, komplit deh. Kekurangannya, dia kurang suka sama perubahan plan yang tiba-tiba (yang nggak ada di dalam plan sebelumnya tentunya) alhasil kesulitan ya untuk hal spontanitas.

Seperti yang saya bilang, tulisan ini bukan buat nunjukin siapa yang menang dan kalah ataupun siapa yang lebih baik dan yang buruk. Saya sendiri salut sama kemampuan spontanitas dan rasa optimis mereka yang besar. Mungkin ada yang belum tau tentang prinsip The Law of Attraction? Berdasarkan hukum itu, suatu pemikiran dan perasaan positif yang kuat bisa ngasih pengarus besar untuk peristiwa yang akan terjadi di masa depan dan mostly emang beneran kejadian. Secara dalil agama pun Allah beserta persangkaan para hamba-Nya. So, emang keren banget kalau orang punya rasa optimis yang besar. Buat orang yang berpikir terstruktur dan selalu memikirkan segala kemungkinan, ini juga nggak salah kan. Mereka belum tentu nggak percaya/optimis loh. Mereka cuma nggak mau apa yang udah direncanakan/disusun sedemikian rupa gagal cuma karena kelalaian sendiri.


Kalau bisa punya kedua-duanya mah hebat pisan. Tapi nyatanya, jarang banget orang yang sifatnya bisa balance, pasti akan ada yang lebih dominan. Saya pribadi berusaha menyeimbangkannya dengan mencoba buat percaya ke orang tipe dominan optimis ini, terutama untuk perihal acara. Walaupun rasanya suka nge-BT-in tapi kalau udah saling percaya, insyaAllah everything’s gonna be OK. Sebenernya untuk kedua tipe tersebut cocok buat disandingkan dalam sebuah tim karena bisa saling melengkapi. So, tipe yang mana kah kamu?..hehe

Saturday, February 08, 2014

Kumpulan Special Status Facebook

Malem ini ceritanya lagi nyari-nyari ilmu tentang optimalisasi blog karena saya ngerasa kayak ada sesuatu yang terjadi pada blog saya. Semoga aja sih sekarang jadi lebih baik. Nah! Dalam pencarian itu saya dapet satu pernyataan yang menyebutkan bahwa ternyata ada istilah yang disebut bad content menurut google. Dampaknya, si blog bisa kena pinalti. Bad content itu adalah tulisan yang berupa copy-paste dan tulisan yang terlalu pendek. Wuiihh.. ngeri dan saya juga jadi mikir jangan-jangan blog saya udah kena pinalti itu karena banyak tulisan jaman dulu saya yang isinya cuma berupa beberapa rangkaian kata. Tulisan itu merupakan beberapa status Facebook yang pernah saya buat dan menurut saya sayang banget kalau dibiarkan tenggelam begitu saja di dunia per-Facebook-an.

Setelah dicek, banyak juga. Mau saya delete tapi sayang. Akhirnya, saya dapet ide buat menggabungkan semua dalam satu postingan. So, here it is..

Mencari Perhatian Orang Lain??
Sahabat..
Jika engkau ingin mencari/menarik perhatian orang lain, maka lakukan lah dengan menjadi pribadi yang baik, pribadi yang selalu bersemangat, optimis, inspiratif, dan bersahaja ketimbang dengan mengeluh/marah-marah di tempat umum (termasuk social media) atau menjadi pribadi yang tidak menyenangkan..
Cara seperti itu insyaAllah akan lebih berkesan dan bermanfaat. Jika cara itu tidak berhasil, biar lah Allah saja yang memperhatikan kita..
Karena setiap hal baik yang kita lakukan sebenarnya adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.

Cinta Itu Buta.. Cinta Itu Mencerahkan..
Cinta itu buta?
Itulah cinta yang didasarkan pada nafsu
Cinta itu mencerahkan?
Itulah cinta yang didasarkan pada ketaqwaan
Cinta yang hakiki adalah cinta yang tiap hembusan nafasnya didasarkan pada cinta kepada-Nya..
Maka seorang kekasih sejati bukan lah ia yang rela berkorban untuk mendapatkan hati kita melalui jalan yang tidak disukai-Nya, melainkan ia yang dapat mendekatkan diri kita pada-Nya dan takut akan sebuah pelanggaran terhadap aturan-Nya..

Cantik itu Tergantung Akhlaq
Seorang ahli syukur berkata:
Bila kamu bercermin dan kemudian dirimu merasa tidak cantik/rupawan, maka percantik lah dengan akhlaq..
Bila kamu bercermin dan merasa cantik/rupawan, maka jangan kau rusak dengan akhlaq mu..

"Ad-dunya mata'un wa khairun mata'iha al-mar'atun ash-shalihah"
Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah..

Ketika Produktifitas & Semangat Diri Menurun
Ketika semangat dan produktifitas diri mulai menurun karena tidak adanya timbal balik yang kita harapkan, maka yakin kan diri kita bahwa segala yang kita lakukan adalah hanya untuk menjadi insan yang dapat menebar manfaat demi mendapatkan ridha dari-Nya.. Hamasah!! Tidak ada suatu kebaikan pun yang sia-sia..

Jangan Hanya Bisa Mengkritik, Tapi Berbuat lah..
Begitu banyak orang-orang yang hanya bisa mengkritik tanpa bisa memberikan solusi, hanya bisa menuntut namun tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mengoreksi orang lain namun tidak bisa mengoreksi dirinya sendiri. Jika demikian, apa bedanya mereka dengan orang yang mereka kritik? Bahkan bisa jadi orang yang mereka kritik itu lebih baik karena mereka telah "berbuat sesuatu", mereka telah berjuang & melakukan yang terbaik. Dan mereka lah para pejuang sejati.

Ikhlasunniyah
Orang yang paling menikmati hidup adalah orang yang paling bersungguh-sungguh menjaga keikhlasannya. Manusia yang ikhlas adalah manusia yang berkarakter kuat dan tidak pernah mengenal lelah.

Walk The Talk..
Apakah kita harus menunggu untuk bergerak? Jika hanya itu alasannya, jangan harap perubahan itu akan muncul. Bergerak bukan lah sekedar MENGATAKAN ini salah dan itu salah, tapi bergerak adalah MELAKUKAN ini dan itu. Apa yang salah? Perbaiki. Apa yang kurang tepat? Benahi. Apa yang baik? Lakukan. Meski dari sebuah niat sudah menjadikan pahala bagi kita. Tapi dalam sebuah perubahan, hanya sekedar NIAT saja tidak cukup.. REALISASIKAN..

Melangkah Terus
Jangan pernah lelah melangkahkan kaki kita pada jalan kebaikan, karena tidak ada satu hal pun yang kan sia-sia selama hal yang kita lakukan itu adalah sebuah kebaikan. Dan gunakan lah waktu kita untuk mengambil hikmah dari tiap-tiap kejadian ketimbang dari menghabiskan waktu untuk mengeluh dan mengeluh, insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang beruntung.

Teguhkan Hatimu!
Sahabat, bagaimanapun keadaan kita, hidup ini harus tetap berjalan. Seberat dan sepahit apapun itu..yakinlah bahwa itu semua adalah tarbiyah dari Sang Pencipta yang kelak akan membentuk diri kita menjadi insan yang berkualitas. Ingat lah akan jajni Allah kepada kita bahwa "sesudah kesulitan itu ada kemudahan". Dan ingat pula akan janji Allah kepada kita bahwa "Ia akan menunjukkan jalan-jalan Nya kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ridha-Nya". Bismillah..Allahu Akbar,laa haula wa laa quwwata illa billah

Bukan Akhwat yang Lemah Lembut
Sebagai seorang akhwat, jadilah akhwat yang Kuat dan Lembut. Di balik Kelembutan ada Kekuatan dan di balik Kekuatan ada Kelembutan. Lalu, kekuatan dan kelembutan yang seperti apakah itu? Yaitu, Kekuatan yang senantiasa memberi Kesejukan dan Kelembutan yang senantiasa memberikan Kekuatan.

Bukan Kebetulan Muslim
Kita bukanlah seseorang yang hidup dengan segala aktivitas dan peran (mahasiswa, entrepreneur, dokter, ketua asosiasi, dsb) yang kebetulan merupakan seorang Muslim. Namun, kita adalah seorang Muslim yang kebetulan hidup dengan segala peran tersebut. Apapun peran dan kesibukan kita dalam hidup ini, jangan lah sampai melupakan akan identitas kita yang sesungguhnya, yaitu sebagai seorang Muslim yang oleh karena itu kita memiliki kewajiban untuk mensyi'arkan agama ini.

Khairunnas
Ketika diri mempertanyakan mengenai sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka salah satunya adalah dengan bertanya pada diri sendiri sejauh mana nilai manfaat diri ini. Inagt lah tentang sabda Rasulullah SAW, "Khairunnas Anfa'uhum Linnas"

Marahmu, Karena Allah atau Karena Nafsu??
Pernahkah kita merasakan dan menyadari bahwa ketika kita sudah memiliki kedekatan dengan seseorang (dalam berbagai hal), justru membuat kita menjadi lebih mudah merasa kesal/jengkel dengannya.. Ketahuilah, sahabat! Justru di situ lah letak ujiannya.. Apakah hubungan yang kita jalin selama ini berlandaskan pada kasih sayang karena Allah atau hanya karena sekedar nafsu?! Tentunya jika hubungan kita itu berlandaskan karena Allah, kita tidak akan marah selain dengan alasan karena Allah.. Dan untuk kebaikan mereka.

Berharaplah Hanya Pada Allah
Janganlah keburukan yang dilakukan seseorang (kekecewaan terhadap sesuatu) menghalangi kita untuk berbuat dan menebarkan kebaikan. Sadarilah sahabat, bahwa ketika kita sering merasakan kekecewaan, itu berarti bahwa kita masih banyak berharap pada makhluk dan pada selain daripada-Nya. Berharap lah hanya pada-Nya. Niscaya semua akan terasa ringan karena kita tahu bahwa Ia kan membalas SEMUA pengorbanan kita di akhirat kelak tanpa pengingkaran sedikit pun terhadap janji-janji Nya atas kenikmatan yang akan Ia berikan kepada hamba-Nya yang selalu berjalan dan memperjuangkan agama-Nya. Semangat!! Keep ISTIQAMAH..

Peluang Itu Akan Selalu Ada
Seorang pemimpin harus mampu melakukan perubahan, menjadi inspirasi bagi sekitarnya, memiliki keteguhan hati yang lebih, dan pintar melihat dan memanfaatkan peluang. Ketahuilah bahwa dalam setiap kondisi itu pasti memiliki satu titik peluang yang dapat kita manfaatkan untuk mengembangkan & membangun suatu kemajuan. The Things that U have to do is "Knows What is Wanted", kemudian lihatlah apa yang kita miliki, berpikir cerdik, optimalkan Sumber Daya yang ada, dan utarakan hal itu dengan tindakan. Don't Give Up..Don't be Affraid because Allah with us. And Allah will give us the way for people that strugle in Allah's way..

Optimis!!
Membangun barisan yang kokoh itu sangat penting.
Bismillah... Sahabat-sahabat ku, mari kita berjuang bersama.
Opportunistic Optimism.. Yakin lah bahwa peluang itu selalu ada. Innallaha ma'ana..

Saturday, February 01, 2014

Seuntai Kata untuk Gamus


Gamus..
Begitu orang-orang memanggilnya
Satu kata sederhana namun memiliki makna mendalam
Keluarga Muslim..
Itu lah nama lengkapnya
Nama itu memberi sebuah konsep
Ketika keluarga bukan lah hanya menceritakan tentang sebuah hubungan darah
Tapi ini tentang orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita
Saling menjaga satu sama lain
Dan islam yang menjadi dasarnya

Kita dipertemukan dalam sebuah ikatan ukhuwah
Ikatan dalam keimanan
Ikatan yang penuh kasih-sayang
Ikatan yang penuh kesabaran & keikhlasan

13 tahun berkarya
Bukan lah waktu yang lama dalam kehidupan
Namun bukan pula waktu yang sebentar dalam sebuah perjuangan

Gamus..
Tempat ku tumbuh
Tempat ku berkembang
Tempat ku menjadi pribadi yang lebih baik
Tempat ku menyayangi dan disayangi
Tempat ku menggoreskan berbagai kisah
Tempat ku bertemu dengan sahabat-sahabat yang luar biasa

Gamus..
Meski kini kau telah berubah nama
Meski selanjutnya kau akan hidup bersama orang tua angkat mu
Namun kenangan bersama mu tak akan ku lupa
You'll be still in my heart
Thanks for everything

#Persembahan khusus untuk Gamus tercinta
2 Juni 2000 - 31 Januari 2013

Thursday, January 02, 2014

Mr. Bad Man & Mr. Good Man


So complicated feelings..
Adakalanya kita memainkan dua peran yang berbeda dalam satu cerita, sehingga kadang kala terjadi pergolakan hebat pada dasar hati nurani dan rasionalitas logika saat harus mengambil sebuah keputusan penting.

Saat itu lah integritas kita memainkan peran diuji. Apakah hanya akan terbawa perasaan atau tetap mengutamakan rasionalitas logika atau justru mencampur aduk keduanya dengan komposisi yang tepat??

Dan saat sebuah keputusan telah ditetapkan akan sebuah tindakan, adakalanya justru harus menyakiti diri kita sendiri dan pihak lain. Sakit memang, tapi itu lah cinta/kasih sayang yang sesungguhnya.

Saat dimana kita berani mengambil risiko untuk menerima kenyataan bahwa orang yang kita sayangi akan merasa tersakiti..
Saat dimana kita berani mengambil risiko untuk dibenci oleh orang yang kita sayangi akibat tindakan yang kita putuskan..
Namun, itu lah yang harus kita lakukan.

Ingat kah saat Ibu kita melarang kita saat sedang bermain-main di tempat berbahaya? Ketika kita bermain-main di dekat kompor, dekat semak berduri, berlari-lari di pinggir jalan, beratraksi di atas meja, bahkan ketika kita sedang asik memegang setangkai bunga yang cantik nan indah namun berduri, ia akan langsung melarang kita dan menjauhkan kita dari hal yang begitu kita senangi tersebut namun sebenarnya berbahaya. 

Dalam hatinya tidak tega melihat kita yang seakan-akan kesenangannya diambil begitu saja olehnya, ia pun harus menerima luapan emosi amarah kita. Tapi ia tetap sabar mengambil peran itu dengan ikhlas karena ia amat menyayangi kita.

Mungkin saat kita masih kecil, kita tidak akan mengerti mengapa ibu kita melarang melakukan sesuatu yang amat kita senangi tersebut. Tapi saat kita mulai besar dan semakin mempelajari lebih banyak hal, baru lah kita bisa mengerti alasan tindakannya tersebut.

Hmm.. dan sekarang, saya pun bingung seolah tidak mengerti kenapa tulisan ini bisa tiba-tiba tercipta? hehe.

Terus apa hubungannya sama judul di atas yahh?? Layaknya dalam sebuah film pasti lah terdapat peran The Good Man dan The Bad Man. Adakalanya seorang aktor memainkan peran sebagai Mr. Good dan adakalanya juga ia harus memainkan peran sebagai Mr. Bad meski peran tersebut tidak sesuai dengan karakteristik pribadinya. Hubungan tulisan ini dengan judul di atas adalah kita diibaratkan seorang aktor film dalam kehidupan. Adakalanya kita dapat memainkan peran sebagai Mr. Good mengikuti keinginan hati nurani dan keinginan kita. Tapi, adakalanya kita harus memainkan peran sebagai Mr. Bad.

Apapun peran yang kita mainkan, jika niat kita adalah untuk kebaikan.. Yakin kan pada diri kita "Everything's gonna be Alright". Biarkan tangan-tangan Allah yang bekerja kemudian..  (n_n)

Friday, December 25, 2009

GAMUS Harus Lebih Baik

Hmm..mengingat kembali visi ku di awal mula bergabungnya diri ini di GAMUS (Keluarga Muslim) Institut Manajemen Telkom yang kemudian berkelanjutan dalam kepengurusan GAMUS saat ini. Pada mulanya, aku pun tidak menyangka dan tidak pernah terpikirkan dalam benak ku bahwa aku akan menjadi Penguint (Pengurus Inti) Kepengurusan GAMUS saat ini, karena kita semua tahu beratnya suatu amanah itu. Subhanallah.. 

Sebenarnya, tulisan ini sudah dimuat dalam notes FB ku dan web GAMUS di awal kepengurusan ku dan kawan-kawan. Namun, ketika ku baca kembali tulisan ku ini..seolah-olah mengingatkan ku kembali akan cita-cita ku dan kawan-kawan ku yang mungkin sempat sedikit saja terlupakan. Dan aku pun berharap, dengan tulisan ini dapat mengingatkan kembali sahabat-sahabat ku semua akan cita-cita mulia kita yang dahulu pernah kita ikrarkan.

Mengingat suatu pernyataan Sang Mantan Presiden GAMUS di akhir-akhir kepengurusannya, yang menyatakan: "GAMUS akan menjadi BESAR dan HARUS menjadi BESAR". Subhanallah, suatu pernyataan yang begitu menggugah hati ini untuk memperjuangkan agama ini di medan kampus khususnya dan medan luar kampus umumnya yang kemudian dengan sendirinya akan membawa maju GAMUS ke kondisi yang jauh lebih baik.

Namun, seketika..dalam pikiranku terbesit sebuah pernyataan: "GAMUS akan menjadi LEBIH BAIK dan HARUS menjadi LEBIH BAIK". Yah! Itulah kata-kata yang hadir dalam pikiranku saat itu, mengadopsi dari pernyataan Sang Mantan Presiden GAMUS. Memang dari unsur kalimat tidak begitu berbeda. Namun, dalam pengertiannya ada sedikit perbedaan. Mengapa aku tidak memikirkan untuk membesarkan GAMUS

1. Saat itu IM Telkom sedang mengalami yang namanya masa transisi perubahan struktur dan sistem institusi. Hal ini berpengaruh pula pada sistem dan strategi dakwah yang harus dilakukan GAMUS sesuai dengan kebutuhan organisasi saat ini. Sehingga, kita butuh fokus pada strategi baru yang matang and mantab..Kalau menggunakan ilmu manajemennya bisa kita istilahkan sebagai strategi yang efektif dan efisien. Teringat juga pesan Sang mantan Presiden untuk awal mula kepengurusan kami, "Jangan Bengong"..he

2. Untuk menjadi besar, tentunya kita harus menjadi lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. So, itu lah filosofi dari visi ku. GAMUS harus lebih baik. Yupz! Harus Lebih baik..Lebih baik dalam strategi, dalam sistem keorganisasian, dalam membangun hubungan, dalam membangun citra, pembinaan, mencetak kader yang kokoh, serta dalam penyatuan dan pencapaian visi & misi.

Ingat lah sahabat-sahabat ku! Organisasi layaknya sebuah mesin yang di dalamnya terdapat komponen-komponen penggeraknya. Jika salah satu komponen tersebut rusak atau hilang, maka mesin tersebut tidak dapat dinyalakan apalagi berjalan dengan baik. Seperti itu lah organisasi. Meski GAMUS terdiri dari berbagai unsur dan departemen. Tapi, pastikan bahwa kita semua adalah satu kesatuan yang kokoh dan tak kan goyah oleh rintangan.

Sahabat-sahabat ku..ayo kita bangun GAMUS BERSAMA-SAMA dengan segenap kemampuan kita. Ayo kita Jadikan GAMUS menjadi LEBIH BAIK yang kemudian akan membawa GAMUS menjadi BESAR..goreskan prestasi kita hingga membekas dalam sejarah perjuangan kita.. Untuk MEMPERBAIKI, kita tidak harus MERUBAH. Tapi untuk BERUBAH, kita harus MEMPERBAIKI. Pertahankan apa yang telah kita raih dan perbaiki apa yang menjadi kekurangan kita.Amanah ini memang lah berat. Namun, kita dapat membuatnya menjadi ringan bila kita menggunakan wadah keikhlasan dalam hati kita untuk membawanya. Just remember this:


"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah. Maka Allah akan menolong mu dan meneguhkan kedudukanmu"

SEMANGAT!!
LET'S FASTABIQUL KHAIRAT..
ALLAHU AKBAR..
BERSAMA KITA (Kekeluargaan, Istiqamah, Taqwa, & Aktif) BISA..

Friday, December 05, 2008

Menjadi Pemateri Bukan Sekedar Basa-Basi

Hmm…In this writing, I just wanna share about something that I wanna share..haha (ya iya lah masa ya iya donkz..). Nowadays, I often find some gaffe around me. What is that?!..Hmm…Langsung jha ya… Sebenarnya tulisan saya ini, lebih jauhnya lagi berkaitan dengan pembahasan “Mentoring Efektif” atau "Manajemen Mentoring". Tapi, berhubung dengan beberapa hal, maka saya hanya membahas mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan menjadi seorang pemateri (da’i/da’iah) pada umumnya saja. Perkara menjadi pemateri tentu lah itu merupakan hal yang baik karena dapat menjadi sarana dakwah and ladang amal untuk kita.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fushshilat: 33)

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika sang pemateri tidak menguasai materi dakwahnya. Ilmu agama tentu lah tidak sama dengan ilmu keduniaan. Mungkin, kita dapat menggunakan ‘sistem kebut kilat’ (mengkaji bahan beberapa menit sebelum presentasi) dalam mempresentasikan suatu tugas mata kuliah. Atau bahkan karena jadwal di luar kuliah yang padat, membuat kita tidak sempat ikut serta dalam menyusun materi tugas yang akan dipresentasikan bersama kelompok. Kemudian pada hari-H nya kita hanya tinggal diberikan bagian handout materi yang harus kita jelaskan oleh teman sekelompok kita. Dan karena waktu yang sempit mengharuskan kita untuk tampil segera sehingga kita tidak sempat mempelajarinya. Hanya bermodal handout, kita bisa tampil ala kadarnya dengan metode ‘text book’, meskipun hal ini juga tetap seharusnya tidak dilakukan.

Namun, lain halnya dengan ilmu agama yang kita presentasikan alias kita ajarkan untuk diikuti oleh yang lain. Materi yang akan kita sampaikan tidak bisa diberlakukan layaknya kejadian di atas karena yang kita berikan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Oleh karena itu, materi yang akan kita sampaikan hendak lah telah kita kuasai sebelumnya dan tidak hanya bermodalkan pada metode ‘text book’ alias tekstual dan tanpa persiapan sehingga materi yang disampaikan asal-asalan, dangkal, dan tidak menarik. Karena, apa yang kita sampaikan harus lah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah dengan penjelasan yang bisa dimengerti dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekedar ra’yu (pendapat) diri kita pribadi.

Selain itu, alangkah baiknya lagi bila sebelum materi diberikan, kita melakukan analisis terhadap peserta. Tujuannya adalah untuk mengetahui keadaan mad'u (peserta) baik secara Psikologis, Demografis, dan Sosiologis sebelum penyampaian materi. Analisis ini di antaranya: 1. Kita melakukan prediksi terhadap hal yang kita dengar, lihat, rasakan dan perhatikan. 2. Kita mampu menyampaikan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta. Karena mereka akan menilai materi yang akan kita sampaikan berdasarkan apa yang telah mereka ketahui dan yakini sebelumnya. 3. Meperlakukan peserta sebagai pusat perhatian kita, untuk mengetahui pandangan peserta terhadap tema pembicaraan, pembicara dan lingkungan tempat acara. Dan hal penting lainnya yang perlu kita perhatikan adalah sistematis pertemuan. Apa yang akan kita sampaikan dan hal lain apa yang akan kita lakukan selanjutnya hendaknya sudah terstruktur dengan jelas dalam benak kita. Jangan sampai terjadi ‘blank spot’ atau kondisi-kondisi ‘nggak meaning’ dalam pertemuan kita hingga menghabiskan waktu yang sia-sia. Hal ini perlu kita hindari karena selain menimbulkan waktu yang terbuang sia-sia, juga dapat mengalihkan perhatian peserta.

Nb: The Crucial Thing That We Must Remember as A Speaker (da’i/da’iah): ketika kita menjadi seorang pemateri terlebih lagi menjadi seorang pementor hendaknya senantiasa mengintrospeksi diri dan memperbaiki dirinya. Karena, menjadi seorang pementor atau pemateri bukan lah perkara yang sepele yang hanya sekedar basa-basi alias gaya-gayaan saja. Atau bahkan hanya sekedar formalitas agar program/ kegiatan rutin LDK dapat terlaksana.

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, ia berkata: “saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda”: “didatangkan seorang rojul (laki-laki) pada hari kiamat lalu ia dimasukkan ke dalam api neraka, maka terburailah seluruh isi perutnya, lalu ia berputar-putar di dalam neraka sebagaimana keledai mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah penduduk neraka dan bertanya padanya: “wahai fulan! Apa yang menyebabkan engkau begini? Bukankah dahulu engkau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar?”. Maka berkatalah rojul tersebut: “Benar, dulu saya memerintahkan pada yang ma’ruf namun saya tidak mengamalkannya, dan mmencegah dari yang munkar tapi saya mengerjakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. As-Shaff: 2-3)

Tuesday, November 04, 2008

Petualangan Idul Fitri ke Sumatera Utara

-->
Hmm…Lebaran kali ini ada yang berbeda dari lebaran-lebaran saya biasanya. Kalo biasanya saya mudik ke bandung..bandung juga (padahal kuliah di bandung, itu mah bukan mudik yah?!..he), nah! Kali ini saya sekeluarga mudik ke Medan. Setelah bertahun-tahun saya tidak ke sana. Kalo nggak salah inget, terakhir kali saya ke sana waktu kelas 2 SD. And kalo nggk salah juga tu merupakan pertama kalinya saya ke sana. Hmm…bayangkan…lama banget yah…


Nggak sedikit yang bingung kalo nanya sama saya, “Syifa! Kamu teh orang apa?”. Terlebih lagi teman-teman di kampus. Yang mereka tau paling bahwa saya adalah orang Jakarta. Secara..saya hidup and besar di Jakarta. Makanya logat saya pun..ya logat orang-orang di Jakarta.



Jadi gini..sekilas mengenai asal usul saya…

Ibu saya teh orang Manado sebenernya. Karena kakek saya dari ibu the orang Manado. Cuma, karena beliau udah lama wafat semenjak ibu saya masih sekolah, jadi weh budayanya didominasi oleh nenek yang orang sunda (Tasik) and tinggal di Bandung. Sedangkan ayah saya orang Melayu (Riau). Because, kakaek saya dari ayah saya itu, ya orang Melayu. Makanya, nama asli saya teh seharusnya “Tengku Syifa Rahmawita”. Cuma, nggak ditulis di akte kelahiran. Jadi weh nama yang beredar di masyarakat saat ini cuma “Syifa Rahmawita”..he. (Eh! Tapi pas di tiket boarding pass, nama tengku saya dimasukin sama ayah saya. Saya sempet kaget juga tu...) Nah! Kejadiannya sama seperti yang terjadi pada ibu saya. So, segala sesuatunya didominasi oleh nenek saya yang orang Batak and tinggal di Medan. Jadi, sekarang udah tau kan kalo saya orang apa..he.


Nah! Sekarang saya udah bisa mulai cerita…


Hari pertama:

Saya berangkat dari rumah sekitar jam 9 setelah shalat Ied and salam-salaman sama tetangga-tetangga. Berangkat dari rumah naik mobil pribadi sampai kantornya ayah di Telkom Blok M. Terus, mobilnya ditaro di sana and ditipin deh ke satpam. Nah! nggak jauh dari situ ada pool bus angkutan khusus ke bandara. Naik deh…singkat cerita…saya terbang ke Medan pukul 14.30 setelah mengalami delay satu jam lebih…Masya Allah…Ternyata naik pesawat tu ribet banget yah...Cz, kudu’ ngelewatin 2 pintu pemeriksaan plus satu pintu lagi sebelum masuk pesawat (nyerahin tiket Boarding Pass).



Sesampainya di Bandara Polonia (Medan), saya langsung ke rumah adiknya ayah di Pasar Merah. Itu nama tempat lohh…kaya nama daerah di Bandung tu kan ada Dago, Setiabudhi, dll. Bukan rumahnya di pasar..hehe. Capeekkkk……..banget. Sampai di sana jam 17.00. Mandi, makan, shalat Maghrib + Isya, tidur deh langsung. Cz, besoknya mau pergi ke kampungnya nenek yang ada di Kisaran and berangkat jam 05.30. Pagi banget kan…Cz, butuh waktu kurang lebih empat jam dari Pasar Merah. Weshhh!! Kayanya lebih lama dari perjalanan Jakarta-Bandung tuh..Jadi inget ilmu dari ust. Tsalis (Darut Tauhid) waktu ngisi ta’lim di kampus tentang tips & seni mudik. Salah satu persiapan yang perlu disiapkan adalah, “mudik dengan niat untuk bersilaturrahim”.



Hari kedua:

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kami sekeluarga berangkat jam 05.30. Kita naik mobil + supir yang udah disewa sama ayah-ibu buat empat hari. Wah! Supirnya dahsyat saudara-saudara!! Namanya teh Tanes. Tapi, dipanggilnya Bang Ginting. Nggak tau tu dapet dari mana…Tau nggak?! Sepanjang perjalanan tu, kita ngebut terus…sampai..sampai tiap ada lobang, gundukan, polisi tidur, dsb dibabat habis…Malah saya and kakak saya kebagian duduk di kursi belakang. Ngalah sama sang adik-adik yang masih kecil-kecil. Kerasa banget jedak jeduknya. Masya Allah…Wuihh!…Mantap kali…dahsYat LuAr Biasa! Tapi, its OK!! Nikmatin aja deh…ya nggak?! Daripada dibuat susah. Kan seru tu jadi berasa lagi ada di lomba balapan. Jago banget nyelap-nyelipnya…Pokoknya keren deh..Selama di perjalanan saya diingatkan kembali, dengan angkutan yang ajaib di Medan. Kaya gambar yang ada di atas itu tu. Becak, tapi pake motor..hehe. Aneh...



Nah! Pas udah sampai Kisaran nih, kita masih harus melewati rintangan yang tersedia untuk sampai ke rumah nenek yang ada di kampung pedalaman..hehe. Jadi, kita tu masih harus menempuh jalan yang cukup jauh lagi untuk masuk ke sana. And guess what?! Sahabat semua tau pernah liat pertandingan oxford? Yang jalannya berupa tanah basah yang menyerupai lumpur and naik turun. Nah!! Seperti itulah jalan yang saya lalui dalam jarak yang cukup jauh. Kalo bukan orang yang udah handal nyetir, insya Allah susah banget nyampenya. Tapi, Subhanallah wal Hamdulillah..Bang Ginting?! TOP bangetz!! Salut saya…



Di jalan kaya begitu, dia tetep ngebut loh!! Udah gitu meski jalannya ngepot..ngepot..tapi beliau bisa menjaga keseimbangan mobil. Jadinya, saya bener-bener berasa kaya lagi oxford. MANTAP kan??!!! Kalo tadi berasa kaya lagi balapan biasa, sekarang sesi oxfrodnya…he.



Tau nggak?! Waktu di kampung itu…Sinyalnya minim banget. Kalo HP nya diem dapet sinyal satu, tapi kalo HP nya goyang dikit sinyalnya langsung menghilang. Jadi, kalo saya mo ngirim SMS tu HP nya harus ditaro biar bener-bener diem. Kalo nggak, SMS saya bakal failed mulu…Malah HP saya lagi bocor batrenya…Masya Allah…gusti…Jadinya saya nggak bisa ngebales SMS dari orang-orang. Hiks..Jadi nggak enak. Maaf yah teman-teman…



Ternyata dengan kita berkunjung ke daerah pedalaman bisa bikin kita menyadari betapa nikmatnya kita yang selama ini hidup di kota dengan segala fasilitas yang berkecukupan. Alhamdulillah…



Hari ketiga:

Dari rumah nenek tersebut, keesokan paginya saya sekeluarga langsung meluncur ke Danau Toba. Kalo nggak salah waktu yang dibutuhin kurang lebih tiga jam. Jauh kan…? Hmm…Sebenernya kita ke sana cuma mau nganterin adik2 jha…kan mereka belum pernah ke sana. Kalo saya ,kakak, and orangtua saya mah udah pernah ke sana.



Wah! Masya Allah!! Emang karena lagi lebaran juga kayanya…RuAMmeeenyaa!!! So crowded!


Pulangnya kita muter-muter ngelewatin Bukit Brastagi. Sebenernya ada jalan yang lebih cepet. Tapi, kata ayah and ibu saya iseng ajah jalan-jalan. Cz, pemandangannya emang bagus sih. Kaya di puncak. Tapi ada yang lebih menarik, di daerah sebelum kita masuk kke Brastagi, kita melalui daerah perbukitan yang di sisi-sisi jalannya ada keranya berkeliaran bebas gitu aja. Kalo nggak salah itu merupakan daerah hutan lindung deh. Jadi serasa lagi ada di Taman Safari.



Nah!! Tau nggak?! Pas kita udah memasuki daerah Brastagi, banyak banget rumah makan. TAaapppiiiiiii….............Makanan yang dijual itu sebagian besar berkodekan B1 and B2. Ada yang tau nggak itu apa?..hehe. Tadinya saya nggak tau. Asyik aja ngebaca tulisan-tulisan di plang rumah makan,”B1 Panggang”, ”Tersedia B1 & B2”. Eh, pas lagi ngobrol-ngobrol, supir saya bilang, “B1 itu guk-guk (pake bahasai itu jha ya..byar enakan) & B2 itu hewan yang kalo di kartun-kartun bunyinya ngoik-ngoik. Wah! Kita semua langsung deh terkejut…Pantes dari tadi banyak tulisan demikian..hahaha.



Singkat cerita, kita langsung pulangnya ke rumah saudara yang ada di Pasar Merah lagi.



Hari keempat:

Kita berangkat jam delapan pagi untuk bersilaturrahim ke rumah saudara. Itu juga jauh-jauh euy...Ini tu rumah saudara yang jauh-jauh apa Sumateranya yang luas banget yah?!..he


Ada cerita kocak di sini..Berhubung saya and kakak saya nempel berdua terus, saking kompaknya gitu..Udah gitu adik saya yang kecil-kecil juga nempelnya sama saya and kakak saya. Eh! Jadinya, dikira saudara saya, saya itu istrinya kakak saya..Berasa udah punya keluarga bahagia. Whahahahaha…



Habis itu belanja keperluan deh buat di pesawat pas pulang nanti. Cz, nyewa mobilnya cuma empat hari. Jadi biar sekalian gitu…



Hari kelima & keenam:

Di rumah (Pasar Merah) aja. Istirahat, memulihkan kebugaran tubuh..he.



Hari ketujuh:

Pagi-paginya ayah & ibu beli Meranti (kue bolu gulung khas Medan) buat oleh-oleh. Berhubung bawaan kita banyak, jadinya belinya nggak bisa banyak-banyak deh. Ya..yang jelas saya bawain khusus buat someone special yang nggak pulang waktu Lebaran and still in the boarding house…..hehe. Hayo jangan pada Su’udzan..wkakakak. Biar yang baca pada tenang, yaudah dyeh saya bilang kalo dia itu akhwat..hehe.



Habis itu, kita pulang dyeh…Naik pesawat penerbangan 18.25..Sampe-sampe rumah di Jakarta jam 11 kurang gitu. WhA..ngantuk + capek. And besoknya udah harus ke Bandung cz lusanya udah harus kuliah. And yang parahnya lagi ada tugas yang wajib dikumpulin. Kalo nggak, udah diancem bakal dapet nilai max C sama sang dosen. Wha!! Padahal nih ya…hari Jum’at tu saya nggak da kuliah. Tanggung banget kan ya…Jadi, hari Kamis itu…saya masuk cuma untuk ngumpulin tugas…hmm…yaudah mo gimana lagi.



Udah selesai, kira-kira gitu lah petualangan Idul Fitri saya tahun ini…he

Monday, August 04, 2008

Asma'ul Husna yang Mengingatkan Aku Akan Masa-Masa SMA





Bismiillah..
Sekedar mengenang masa lalu ajah. Ba’da shalat Magribh tadi, tiba-tiba aja ayah saya menyetel Audiovisual Asma’ul Husna dari ESQ. Saat itu saya dan adik saya sedang berada di ruang makan. Suara yang menggemakan nama-nama Allah tersebut terdengar hingga telinga kami. Terdiam sesaat..dan...Masya Allah!! Ini kan yang selama ini aku cari-cari. Langsung dyeh saya lari menghampiri ayah saya yang saat itu berada di depan layar komputer. Karena, dari sekian banyak yang melantunkan dzikir Asma’ul Husna, saya paling suka yang dari ESQ ini..dahsYaT euy!! And dari sekian banyak and sekian lama, saya belum punya yang dari ESQ ituWw..hehe

Pertama kali saya mendengarkan lantunan Asma’ul Husna tersebut ketika saya SMA dulu. Jujur saya rindu dengan suasana SMA saya yang luarr biasa. Meskipun sebenarnya sekolah saya itu bukan sekolah Islam alias umum, tapi...subhanallah sekolah tersebut sangat memperhatikan nilai keislaman. Biasanya, tiap pagi murid-murid yang beragama Islam bertadarus bersama di kelas masing-masing kira-kira 10-15 menit. Ya..kurang lebih sih segitu. Wah!! Rindu sekali saya dengan suasana seperti itu.

Nah!! kalo hari Kamis, jadwalnya beda..dan itu adalah yang paling saya suka, yaitu dzikir Asma’ul Husna. Nah!! Alunan yang dipake tu yang dari ESQ itu..dipasang di Spekaer Room, teruz, keluar dyeh suaranya di speaker yang ada di tiap-tiap kelas..he

Sambil merenung…dzikir Asma’ul Husna itu tiba-tiba saja mengingatkan saya pada saat saya SMA dulu..khususnya ketika saya kelas XII. Tiba-tiba saja saya merasakan seolah-olah sedang duduk menghayati Asma'ul Husna tersebut di kelas saya. Seakan kembali menjadi murid SMA. Saya teringat akan perjuangan bersama teman-teman dan sahabat saya. Susah senang bersama. Jatuh bangun pun kami jalani. Lelah, letih, sakit, namun begitu indah. Saat itu saya mengalami berbagai cobaan yang luarr biasa. Bila saja diklasifikasikan dalam sebuah cerita, mungkin saat itu adalah salah satu klimaks dalam bagian hidup saya. Namun, begitu banyak ilmu yang saya peroleh dari perjalanan hidup saat itu..dan saya pun selalu yakin bahwa Ia lebih mengetahui dari segala-Nya.

Thursday, June 12, 2008

Hikmah Dibalik Makan Es Durian





Hari Sabtu minggu kemarin, saya bersama 2 orang teteh-teteh satu kosan bermalam minggu bersama. Sebut saja nama mereka teh A dan teh D. Eits!! Tapi kita bukan ‘triple date’ lowh!! Bisa bahaya itu…hehe. Ya..sebenarnya hati ini agak berat untuk ikut jalan2 bareng mereka. Apalagi k2 teteh-teteh itu, ya..bsa dibilang agak sedikit linglung begitu. Ditambah belum ada tujuan yang pasti. Teruz, hari Seninnya masih UAS euY. Jadi rencananya mau belajar gitu..Tapi, apa boleh buat. Jarang kan kita pergi jalan bareng. Byar bisa lebih solid juga.

Singkat cerita, ba’da shalat Maghrib kita meluncur ke salah satu pusat keramaian di kota Bandung, yaitu Dago. Berhubung saya yang paling muda, jadi saya tidak terlalu banyak memberi masukan. Karena bingung mau kemana, akhirnya teh A dan teh D tiba-tiba saja membawa kaki saya melangkah ke sebuah kios Es durian. Saya mah nggak tau apa-apa ikut ajah dyeh. Lalu kita beli dyeh. “A’! pesen satu yah! Pake duriannya 3!”. Makan weh bareng2..begitu terasa kebesamaannya. Setelah kita mencicipi beberapa sendok, hmm..subhanallah..duriannya enak pisan. Cuma, sayang rasa air esnya (kuahnya) kurang memuaskan. Tawar gitu dyeh.. Tapi, kalo dipikir-pikir mah..ya..kebayarlah sama rasa duriannya. Nah, saya kaget ketika tiba2 teh A bilang,” Eh, D!! Kayanya ini bukan tempat yang kita cari dyeh!! Soalnya nggak terlalu enak. Duriannya siy enak banget, tapi masa rasa air es nya gitu". Teh D," Iya..Coba SMS teh R gih! Tanyain tempatnya es durian yang enak itu dimana?!". Setelah itu, ternyata memang bukan itu tempat es durian yang kita cari. Dan ternyata mereka bersi keras untuk menemukan tempat yang dimaksud. Lagi-lagi, ikut weh.. So, bis es duriannya abis, jalan weh..nyari tempat es durian yang dimaksud. Ternyata, lumayan jauh euy.. Oh, iya harga es durian yang tadi Rp. 8.000,-.

Setelah melewati perjalanan yang agak melelahkan..Finaly, kita berhasil menemukan tempat es durian yang dimaksud yang katanya ‘very..very delicious’. Lagi2 pesen 1 porsi untuk rame2..hehe. Nyicip dulu gtu..sekalian ngirit..hehe. Sambil menunggu es durian datang kita melihat2 sekitar dunkz.Ternyata harga es durian disitu Rp. 10.000,-. Padahal duriannya cuma 2 biji. Apa yang terbayang dipikiran kita atas hal tersebut? Wah! Pastinya enak duNkz. Kan ada harga, ada rasa. Belum lagi dengar kabar yang katanya..katanya..es durian di situ eNyak. Duh! Udah nggak sabar niyh..

Akhirya datang juga!!..(koq kaya nama acara di Trans TV yah?!..). Setelah kita mencicipi es tersebut, wah! Subhanallah..air es nya eNyak..tapi, sayang rasa duriannya sangat..sangat mengecewakan. Apalah artinya air es yang enak kalau duriannya tidak enak. Namanya juga es durian, tentunya durian lah yang jadi tokoh utamanya. Ya kan?!

Let we see the comparison:
Es pertama
-akses jalan yang dekat
-Rp. 8.000,-
-3 durian (delicious)

Es kedua
-akses jalan yang agak melelahkan
-Rp.10.000,-
-2 durian (terrible)

Tentulah es durian yang perama better than yang kedua. Dari kejadian tersebut, saya jadi teringat akan salah satu firman Allah kepada kita:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Qs. Al-Baqarah:216)
Betapa Allah selalu memberikan yang tebaik untuk hamba-hambanya. Namun, manusia lebinh banyak yang selalu saja mengeluh atas apa yang diberikan oleh Allah SWT. Kita lebih sering terkalahkan oleh nafsu yang tidak pernah merasa puas terhadap sesuatu dan kurang mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita. Bukannya introspeksi dan mensyukuri apa yang telah ada, tapi malah mengeluh, berkeluh kesah, marah, dan sebagainya karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Dalam kejadian ini, betapa Allah telah memberikan yang terbaik kepada saya dan teman saya (durian yang enak, harga lebih murah, n akses yang mudah dibanding es durian k2). Cuma, tetep weh nggak puas..Masya Allah..

Selain itu, peristiwa ini membuat saya teringat bahwa apa yang kita lihat and apa yang kita dengar belumlah pasti kebenarannya. So, kita sebagai umat Islam tidak sepatutnya meng-iyakan apa yang dikatakan orang lain tanpa mengetahui kebenarannya. Apalagi begitu dapat pesan langsung begitu saja kita forward ke banyak orang.

Sesugguhnya tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang kebetulan. Karena semuanya sudah diatur oleh dzat yang Maha Agung Allah SWT. Dan Ia selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Tugas kita adalah berusaha melewati segalanya penuh dengan keimanan and mengambil hikmah dari tiap-tiap kejadian..

Semoga kita dapat menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa menjaga hati n mensyukuri segala karunia-karunia-Nya..