Showing posts with label hikmah kehidupan. Show all posts
Showing posts with label hikmah kehidupan. Show all posts

Friday, September 26, 2014

Gaya Hidup Vs Biaya Hidup

Saya ingin berbagi tentang sebuat kisah menarik yang patut disimak, terutama bagi yang selalu merasa gajinya/uang bulanannya tidak pernah cukup. Tapi, sebelumnya saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya.

Dulu pernah ada seorang rekan kerja yang bilang ke saya "Ah, elo mah enak bokap nyokap lo tajir" atau "elo mah tajir, duitnya banyak". Saya hanya bisa tersenyum dan mengaminkan perkataan tersebut (semoga rezeki saya & orang tua saya makin melimpah dan berkah) setiap kali ada orang yang berkata seperti itu, karena memang seringkali orang mengatakan hal itu kepada saya jika mereka tau pekerjaan orang tua saya.

Padahal sejak saya bekerja, saya sama sekali tidak pernah meminta atau menerima uang sepeser pun dari kedua orang tua saya. Begitu juga saat kuliah dulu, sejujurnya uang bulanan saya seringkali habis saya gunakan untuk kebutuhan kuliah, organisasi, dan juga obat-obatan herbal untuk kesehatan saya (nggak perlu saya bilang obat untuk apa ya) dan saya tidak pernah meminta uang lebihan. Tapi sesekali alhamdulillah saya masih bisa nraktir teman-teman kosan atau jalan-jalan bareng sahabat-sahabat tercinta. Jadi kalau ada cerita anak kosan yang pernah mengalami sisa uang tinggal Rp.5.000,- untuk kebutuhan satu minggu.. ya, saya juga mengalami itu.

Penghasilan yang saya dapat dari gaji memang tidak begitu besar, sama dengan rekan-rekan kerja saya yang lainnya. Tapi alhamdulillah dengan gaji yang seadanya itu saya masih bisa nabung, mentraktir adik-adik, shopping, dan isi bensin pakai pertamax (bukan sombong ya, cuma mau berbagi aja). Orang-orang hanya melihat seakan-akan saya punya banyak uang untuk saya hambur-hamburkan karena dapat kucuran uang dari kedua orang tua, padahal semua itu kuncinya ada di gaya hidup dan pengaturan keuangan. Saya bisa seperti itu karena saya rajin menabung dan saya alokasikan semua uang yang saya punya dengan sebijak mungkin. Nggak asal.

Kalau diperhatikan, seringkali orang itu banyak yang menggunakan uang layaknya sungai yang mengalir. Setelah gajian langsung dipakai ini-itu tanpa perencanaan yang matang tentang keuangan. Yang ada, baru pertengahan bulan kondisi keuangan sudah mendekati sekarat dan di akhir bulan napas berubah jadi kembang-kempis ibarat orang sakaratul maut kali ya.

Saya heran kalau melihat orang yang gajinya tidak seberapa tapi doyannya jalan-jalan, shopping, gonta-ganti gadget, dll. Kendaraan dimodif-modif yg efeknya jadi lebih boros bensin, lebih mementingkan penampilan ketimbang hidup hemat berkecukupan. Giliran duit habis malah ngomel-ngomel nyalahin perusahaan karena ngasih gajinya cuma sedikit. Tabungan pun nggak ada.

Kalau gaji belum terlalu besar ya jangan sering jajan-jajan atau hidup bermewah-mewahlah. Having fun itu memang perlu, tapi kalau penghasilan masih belum begitu besar ya cukup sekali-kali aja. Dibatasi misalnya sekali dalam sebulan.

Saya pribadi selalu mengusahakan sarapan di rumah dan membawa bekal dari rumah untuk makan siang. Bekalnya pun cukup sederhana dan seadanya. Tahu, tempe, telur, sesekali ayam atau ikan. Kemudian saya alokasikan minimal 20% dari penghasilan untuk nabung, sedekah setidaknya 2.5 - 5%, bensin & parkir untuk satu bulan, pulsa HP untuk satu bulan, depresiasi biaya service motor untuk dua bulan, dll. Sisanya barulah digunakan untuk biaya having fun atau jajan sekali-sekali. Namanya juga sisa, jadi nggak banyak-banyak. Kalau saya selalu menyediakan biaya khusus untuk having fun bareng teman dan juga having fun (nraktir) adik-adik. Tapi tetap di-budget, jadi nggak bakal over. Kalaupun mau having fun yang butuh biaya gede (misal: ngadain perjalanan liburan) berarti harus nabung (mengakumulasikan budget having fun) beberapa bulan.

Jadi sebenarnya kunci dari segalanya itu tergantung pada GAYA HIDUP dan syukur. Kalau dari kitanya aja nggak pernah syukur, gimana mau berasa cukup?! Ingat, Allah akan menambah nikmat pada kita jika kita bersyukur.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih" (QS. Ibrahim:7)
Semoga kita bisa menjadi lebih bijak dalam mengalokasikan keuangan kita dan semoga Allah selalu mencukupkan segala kebutuhan kita.. Aamiiin

Sekarang, silahkan disimak kisah dalam sebuah tulisan berjudul Pelajaran Berharga dari Seorang OB. Semoga sobat sekalian bisa mengambil hikmahnya. 

Wednesday, May 21, 2014

Berproses dalam Hidup

Malam ini saya mau sedikit berbagi tentang apa itu berproses dalam hidup saya. Saya dapat inspirasi untuk membuat tulisan ini hasil dari kegiatan rapih-rapih blog yang baru aja beres. Jadi bukan cuma rumah atau kosan aja yang perlu dirapihin, blog juga perlu dirapihin.. Ibaratnya para pembaca itu adalah tamu dan saya sebagai penulis adalah tuan rumah. Jadi saya pengen aja gitu orang-orang yang berkunjung ke blog ini betah alias nyaman.

Nah! Dari kegiatan rapih-rapih itu ternyata mengharuskan saya untuk berinteraksi kembali dengan tulisan-tulisan lama saya. Ternyata ada tulisan-tulisan dengan gaya AL4y ABG. Saya sampai kaget sendiri, "Wow! Seriously?! Yeah, That was me!"..hahhaa. Huruf-huruf itu sengaja nggak saya edit biar sewaktu-waktu bisa mengingatkan saya kembali tentang masa-masa ABG saya yang AL4y.. (n_n)

Saya juga terheran-heran dengan tulisan-tulisan saya yang banyak mengingatkan pada pengalaman pahit di masa-masa SMA yang pernah saya alami, mulai dari kisah persahabatan, keluarga, sampai penyakit. Jujur saya sudah lupa, terutama dengan peristiwa yang paling menyayat hati. Dulu tiap kali saya teringat peristiwa itu rasanya hati saya sakit bagaikan ditusuk-tusuk paku. Bisa dibilang itu adalah fase tersulit dalam hidup saya yang rasanya kepingin banget buat berontak. Mungkin karena pada saat itu pun memang masih masa-masa pencarian jati diri juga ya. Jadi masih ababil.

Saya memang bisa saja saat itu berontak dan berlari ke jalur yang salah. Tapi saya bersyukur karena Allah masih membimbing saya sehingga saya nggak sampai masuk ke jalur yang salah layaknya anak-anak bermasalah pada umumnya. Ini pun berkaitan dengan sebuah pilihan sebenarnya. Apakah saat kita menghadapi masalah kita mau melakukan sesuatu yang nantinya akan merugikan diri sendiri atau justru memilih bertahan pada jalur yang baik. Dulu saya melampiaskan semua permasalahan itu adalah melalui hobi. Berhubung saya suka banget sama olahraga, jadi saya aktif di klub taekwondo juga futsal perempuan. Hampir satu sekolahan tahu bahwa siswi tomboy berkerudung dengan behel yang jadi kapten futsal perempuan itu adalah saya. Tapi kalau sekarang saya bershilaturrahim ke SMA, nggak akan ada yang percaya bahwa dulu saya adalah kapten futsal dan ketua ekskul taekwondo.. hahhaa

Pasti banyak yang nggak nyangka kalau saya itu dulu tomboy banget. Kayak preman deh pokoknya. Mungkin orang lain cuma bisa geleng-geleng kalau ngelihat saya.. hehe. Makanya pas saya berubah untuk berkomitmen pakai rok dan busana yang lebih muslimah itu semuanya pada heboh alias shock, tanpa terkecuali. "Wiih! Syifa jadi cewek sekarang", emang menurut lo dulu apaan?. "Beuh! Jadi akhwat dia. Ukhti-ukhti..", dari dulu juga saya emang akhwat kelleeuuuss masa ikhwan. "Syifa?! Lo pakai rok sekarang?!", berasa saya pakai apa aja gtu ya. Terus ada juga yang bilang kalau saya ini mirip kayak perempuan-perempuan teroris yang waktu itu lagi booming. Mendengar kata-kata itu rasanya tuh JLEB banget. Padahal jauh banget bedanya.. hikshiks.

Tapi mungkin karena waktu itu di lingkungan tempat saya tinggal memang masih limited edition banget perempuan yang memakai jilbab panjang dan rok, jadinya itu dirasakan sebagai sesuatu yang gimana gitu. Saya anggap saja itu maklum, tetap positive thinking aja, dan lebih memantapkan hati kembali. Aahh.. nggak boleh goyah. Okay, mungkin saya berbeda. Tapi apa yang salah kalau kita berbeda dalam kebaikan? Justru itulah yang harus diperjuangkan. Lalu saya berpikir bahwa mungkin justru karena hal inilah semakin sedikit orang-orang yang berani tampil beda atau melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakuan orang lain dalam kebaikan. Banyak orang yang jadinya hanya ikut-ikutan, memilih jalan yang banyak dilalui orang pada umumnya, meski jalan itu tidak sesuai atau kurang tepat.

Semua selentingan yang ada nggak pernah saya hiraukan. Cukup saya berikan mereka senyuman termanis dari wajah saya.. hihhiii. Sekarang pun mereka udah terbiasa koq akhirnya. Jadi, semua itu hanya soal waktu. Banyak orang yang mau berubah itu terlalu banyak mikir tentang respon dan "apa kata orang nanti?". Itu mah nggak perlu dipikirin. Apalah artinya kata orang (pandangan manusia)? Yang penting itu pandangan Allah koq. Selama perubahan yang kita niatkan itu adalah kebaikan, lakukanlah. Perihal respon (ejekan, tentangan, dll) dari orang lain itu cuma masalah waktu yang pada akhirnya mereka pun akan terbiasa dengan perubahan kita. Mereka cuma butuh adaptasi koq. Jadikan saja itu sebagai tantangannya, karena Allah pun menguji keistiqamahan seseorang dengan memberikan kondisi-kondisi yang terbalik atau bertentangan. Kalau di awal-awal ujian aja udah nyerah, gimana mau survive?

Lanjut cerita tentang masa-masa sulit waktu SMA, saya berusaha belajar sedikit demi sedikit, merenung, dan mengambil hikmah. Saya nggak pernah curhat ke orang, jadi saya berusaha survive sendiri, termasuk dalam hal pengobatan penyakit saya yang cukup menguras uang saku.. hihhiii. Tapi walau banyak menguras uang saku, saya heran kenapa saya nggak kurus-kurus ya waktu itu? Eh, apa kurus terus jadi gemuk ya? Yaudah siihh nggak penting juga kan itu.. he. Nah lanjut cerita, dalam keadaan si saya yang mencoba buat survive sendiri itu, saya punya tekad bahwa saya harus keluar dari belenggu kesedihan yang nggak karuan dan menjadi pribadi yang setidaknya lebih baik. Istilahnya membuka lembaran baru deh. Transformasi itu saya lakukan mulai dari awal masuk kuliah. Saya cari-cari tahu tentang LDK yang ada di kampus, rutin mendengarkan siaran radio MQ FM, dan aktif di DKM yang ada di dekat kosan.

Luar biasanya Allah ngasih saya banyak banget jalan. Seolah-olah tuh kayak dipermudah. Saya dipertemukan dengan UKM/LDK Gamus yang banyak banget jasanya dalam membina karakter saya, sampai-sampai saya ngerasa nggak tega banget kalau harus benar-benar meninggalkan dia gitu aja. Rasanya saya sudah terlalu sayang dengan organisasi itu dan segala kenangannya. Di Gamus saya bertemu dengan sahabat, kakak, dan adik yang entahlah.. undefined. Pokoknya sesuatu banget. Terus saya dipertemukan juga dengan DKM Baabul Firdaus yang banyak mengajarkan saya tentang makna sebuah persaudaraan dan terakhir saya dipertemukan dengan Bekam & Ruqyah Center dari siaran MQ FM yang alhamdulillah membantu saya bisa jadi lebih sehat lewat terapi bekam dan herbalnya.

Coba deh pikir, masa iya bisa kebetulan tiba-tiba ada jalan tapi sekaligus satu paket gitu. Seakan semua masalah saya langsung ada jalan keluarnya. Kalau direnungkan kembali, semua pertemuan itu nggak akan bisa terjadi gitu aja tanpa izin dan kekuasaan Allah. Dari proses transformasi itu saya mendapatkan suatu pelajaran bahwa memang benar pribahasa yang mengatakan "Dimana ada kemauan, disitu ada jalan". Tapi kemauan di sini bukan hanya kemauan, melainkan juga disertai dengan aksi (ex: ikut banyak kajian/ seminar/ organisasi untuk mengembangkan potensi dan karakter, buat akhwat yang mau belajar pakai rok dan jilbab syar'i langsung aja pakai). Percuma aja kalau kitanya udah mau, tapi buat usaha atau aksinya nggak ada. So, kalau emang ada niatan baik untuk bertransformasi ke arah yang lebih baik, jangan ditunda-tunda. Nggak perlu banyak ini-itu, langsung Take Action. Semakin ditunda-tunda, semakin mudah lah syetan menipu daya kita dengan menanamkan pikiran-pikiran aneh yang semakin membuat kita ragu untuk memulai melalui bisikan-bisikannya. Seolah-olah banyak kondisi yang nggak memungkinkan, padahal mah biasa aja. "Mau gini tapi blablabla, nanti deh kalau udah blablabla". Yang ada makin lama ditunda, makin banyak pula kata "tapi" dan "nanti". Alhasil nggak tau sampai kapan..

Sekarang saya sudah lulus, sudah jadi alumni, dan jadi kakak dari banyak adik-adik. InsyaAllah udah nggak galau-galau lagi dan ya.. This is my now, gitu ceunah mah kalau kata Jordin Sparks si american idol.

Tapi ini juga belum selesai. Belum ada apa-apanya juga. Perjalanan masih panjang dan transformasi itu harus terus berjalan. Tidak ada kata berhenti sampai tiba saatnya kita kembali pada-Nya.

Bersyukur juga punya blog. Padahal dulu itu saya juga nggak suka-suka banget nulis. Ternyata tulisan-tulisan itu bukan sekedar tulisan. Ia adalah bagian dari memori, ia juga bagian dari nasihat untuk diri sendiri.

Eh iya, selain cerita tentang transformasi diri saya, saya juga mau cerita sekilas tentang transformasi beberapa adik-adik saya di Gamus. Adik-adik saya itu macam-macam. Ada yang dulu pendiam banget sama persis kayak saya jaman baheula, ada juga yang galau banget, ada yang entah gemingnya seakan tak terdengar. Terus mereka bertransformasi menjadi sosok yang menurut saya amazing. Kalau saya perhatikan jalan ceritanya, mereka pun melalui proses yang panjang. Mengaplikasikan niat baik yang mereka punya dengan aksi-aksinya. Ikut seminar-seminar, kepanitiaan, lomba, training, dsb. Terus saya jadi teringat sama lagunya Taylor Swift yang "Everything Has Changed" (*apasiihh). Saya benar-benar kagum dengan mereka yang bisa bertransformasi seperti itu. Mereka membuat saya berpikir "Apakah transformasi saya sudah sejauh mereka?!". Saya hanya berharap, semoga saya bisa terus bertransformasi ke arah yang positif. Mungkin tak sehebat mereka, tapi setidaknya menjadi pribadi yang sedikit-demi sedikit semakin menjadi lebih baik dan terus menebar manfaat.

Tuesday, May 20, 2014

Menghadapi Ujian, Ini Bukan Tentang "Masalah"

Dia yang tersenyum bukan berarti tak pernah menangis
Dia yang sehat bugar bukan berarti tak pernah terkapar sakit
Dia yang berada di puncak kegemilangan bukan berarti tak pernah tersungkur di lembah kegagalan
Dia yang melangkah dengan mantap bukan berarti tak pernah terhenti dalam kebimbangan
Dia yang dikagumi bukan berarti tak pernah dipandang sebelah mata
Dan masih banyak lagi dia-dia yang lain..

Intinya.. Hidup ini balance, Kawan. Ada susah, ada senang. Ada ujian, ada nikmat/karunia. Ibarat sebuat roda yang berputar, adakalanya tiap bagiannya itu berada di atas dan adakalanya pula berada di bawah. Masalah itu akan selalu ada dan menghampiri kita. Tapi justru dengan masalah itulah yang akan melatih kita (memberi peluang) menjadi insan yang lebih baik. Masalah itu adalah tarbiyah istimewa dari-Nya. Perumpamaannya itu bagaikan sebuah kendaraan yang baru bisa bergerak maju hanya jika tejadi gaya gesek antara permukaan roda dan jalan. Tanpa gaya gesek itu, roda kendaraan akan "slip" dan kendaraan pun tidak bisa bergerak. Begitu juga dalam hidup, kita butuh gesekan-gesekan yang akan melatih dan membuat kita lebih baik dari masa ke masa.

Tapi kenapa dia yang sebenarnya sedang dirundung masalah bisa terlihat biasa-biasa saja atau bahkan tersenyum dengan wajah yang sumringah nan menyejukkan?? Dia bukan sok kuat atau sok tabah. Ini bukan tentang itu, tapi ini tentang sebuah cara/jalan yang dia dipilih. Ketahuilah bahwa sebenarnya bukan "masalah" lah yang akan menjadi masalah kita, melainkan bagaimana cara kita menghadapi "masalah" tersebut.

Jadi poin penting dari semua masalah kita itu sebenarnya adalah cara/jalan yang kita pilih. Sebagai umat yang mempercayai akan adanya Allah, sudah seharusnya kita serahkan segala urusan kita pada-Nya. Mulailah dengan penerimaan. Penerimaan di sini maksudnya kita ridha akan ujian yang Ia berikan kepada kita. Apapun yang terjadi, tetaplah berprasangka baik pada Allah (husnudzan billah) bahwa Ia selalu punya rencana yang lebih baik dari segala perencanaan yang kita pikirkan. Hanya saja seringkali logika kita tidak sampai untuk menalar skenario-Nya dan malah lebih terfokuskan pada ujian/masalahnya, bukan pada hikmahnya.

So, kita memang harus berlatih untuk bisa memfokuskan diri pada hikmah dari tiap kejadian/ujian (menjadi ahli hikmah). Untuk melatihnya pun tentu tidak bisa hanya dengan satu permasalahan kan. Butuh berkali-kali, namanya juga latihan. Jika kita sudah terbiasa dengan fokus pada hikmah, insyaAllah akan menjadikan kita tidak mudah down, stres, ataupun mengeluh saat ujian itu datang, bahkan sebaliknya kita justru akan bersyukur karena kita tahu akan hikmah dibalik ujian tersebut.

Satu hal, kita harus selalu yakin bahwa ada maksud dari tiap ujian yang diberikan Allah kepada kita. Bisa jadi Dia sedang mengingatkan kita, bisa jadi Dia ingin menaikkan level kualitas diri kita, bisa jadi Dia menguji untuk mengimbangi dosa-dosa kita yang sudah terlalu banyak dengan pahala, atau bisa jadi Dia memang sedang menguji sejauh mana keimanan kita.

"Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata kami beriman, padahal mereka belum diuji" (QS. Al-Ankabut: 2)

Jika kita meyakini Allah itu ada dan mengakui bahwa Dia lah yang Maha Besar, lalu mengapa masih saja gundah gulana? Bukankah Ia berjanji bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan? Bukankah sudah jadi ketentuan-Nya pula bahwa Ia tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya? Itu berarti Allah tahu bahwa kita mampu menghadapinya.

Pertolongan Allah itu luas. Kita tidak perlu memikirkan darimana datangnya pertolongan itu karena bahkan logika kita tidak akan mampu mencapainya. Biarkan skenario Allah yang bercerita. Sesungguhnya Ia akan mengirimkan pertolongan-Nya dari arah yang tak disangka-sangka.

Cukup berprasangka baik saja pada-Nya karena Ia sebagaimana persangkaan kita. Allah knows the Best. Bukan kah kita semua menginginkan hal-hal yang baik? Lalu mengapa kita tidak berprasangka yang baik pula pada-Nya?

Mungkin kita memiliki masalah yang begitu Besar, tapi ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang Maha Besar

Teguhkan Pendirian, maksimalkan Ikhtiar, terus Berdo'a, dan.. Keep Fighting!! SemangKa!!

Monday, June 20, 2011

Punya Tuhan Nggak Lo?!

Wah! Cukup lama juga ya saya nggak nulis. Ok deh, kali ini saya mencoba menungkap sebuah fenomena dalam kehidupan. Fenomena yang terjadi adalah ada orang yang hidupnya terlihat begitu tenang dan tidak ada beban, tapi di lain sisi ada orang yang hidupnya seakan-akan selalu dijepit oleh berbagai problematika kehidupan. Lalu, benarkah orang yang terlihat hidupnya selalu tenang dan tidak ada beban itu ia tidak pernah ditimpa suatu masalah pun? Kalaupun ada, apakah masalah yang ia hadapi tidaklah seberat masalah yang dihadapi oleh orang yang hidupnya seakan-akan selalu dijepit oleh berbagai problematika kehidupan?

Kata siapa?!
Faktanya, semua orang PASTI mempunyai beban dan pernah menghadapi suatu masalah yang berat dalam hidupnya. Namun yang membedakannya adalah dari bagaimana cara ia menghadapi segala masalah yang ia temui. Ia begitu yakin bahwa pertolongan Allah itu begitu dekat, ia pun yakin akan janji Allah yang mengatakan bahwa "bersama kesulitan itu ada kemudahan", dan ia selalu ridha dengan segala ketentuan Allah yang insyaAllah ada hikmah dibalik setiap kejadian.

Ia benar-benar meyakini bahwa sebesar apapun masalah yang ia hadapi, maka sesungguhnya ia memiliki Allah yang Maha BESAR.. 
Lalu, apalagi yang masih kita khawatirkan?? 
Ujian itu diberikan memang berbeda-beda kepada setiap orang. Bila suatu ujian diberikan kepada fulan X, mungkin baginya akan terasa berat. Namun bila ujian tersebut diberikan kepada fulan Y, mungkin akan terasa ringan. Itu karena kapasitas fulan X dan Y yang jelas berbeda.
Tapi, bukan berarti fulan Y nggak pernah dapet ujian yang berat. Tentu dia pun pernah dan akan diberikan ujian sesuai dengan kapasitasnya (tidak setingkat dengan ujian yang diberikan kepada fulan X, bahkan bisa jadi ujian yang diberikan kepadanya jauh lebih berat). Namun, dia bisa tetap tersenyum dan berdiri tegar karena keyakinannya akan Allah itu..So, pada intinya baik itu fulan X dan Y sama-sama punya ujian masing-masing kan?
"Sama" di sini bukanlah diartikan dengan tingkatan yang sama. Contohnya saja ketika murid SD yang mengikuti ujian nasional, tentu saja soal yang diberikan bukanlah soal yang ecek-ecek. Sesuai dengan tingkatan mereka, mereka akan merasa soal-soal tersebut bukanlah soal yang mudah. Lalu bagi siswa SMP yang juga mengikuti ujian nasional, mereka pun memiliki soal-soal sendiri. Meski namanya sama-sama "ujian nasional", tapi mereka diberikan soal-soal yang berbeda, yaitu sesuai dengan tingkatan mereka (bukan lagi soal-soal ujian nasional untuk tingkat SD). Dan bagi murid SMP pun akan merasa soal-soal ujian mereka bukanlah soal yang mudah. Dengan demikian, baik itu murid SD maupun SMP "sama-sama" mendapatkan soal yang tidak mudah bagi mereka. Seperti itulah perumpamaannya.
Jadi, sekarang udah tau kan bahwa semua orang PASTI punya yang namanya beban dan masalah yang berat dalam hidupnya. Bukan hanya Anda, Saya, atau Mereka. Tapi yang membedakan orang satu dengan yang lainnya adalah cara bagaimana ia menghadapi semua itu. So, jangan jadikan suatu masalah atau beban itu sebagai satu alasan yang membuat hidup kita terpuruk dan menderita. Masalah itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dengan bijak.
Seorang yang PESIMIS akan berpikir bahwa suatu masalah akan menjadi faktor penghambat atau bahkan yang dapat menekan ia pada suatu keterpurukan. Namun seorang yang OPTIMIS akan berpikir bahwa segala masalah yang ada justru merupakan suatu peluang untuk menjadikan ia lebih baik, menjadikan ia semakin tangguh dalam kehidupan, dan memberi ia kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya.
Lah kok bisa mengembangkan potensi? Gimana caranya??
Eitss!! Potensi itu kan sesuatu yang bisa dikembangkan. Jangan pikir yang namanya potensi itu cuma bakat-bakat kita aja sejenis main basket, main musik, nulis, dll.  Coba deh, orang pertama-tama bisa sabar pas dia lagi diuji, ke depannya pun insyaAllah orang itu akan lebih mudah untuk sabar ketika diberikan ujian-ujian selanjutnya. Semakin banyak masalah yang ia hadapi, semakin sering ia terlatih untuk bersikap sabar. 
Ketika seseorang berhasil mengatasi suatu masalah pun, ia akan mendapatkan sebuah pengalaman. Dengan demikian akan memperkaya dirinya dalam mendapatkan referensi untuk keperluan pengambilan keputusan dalam hidupnya ke depannya. Membuat ia menjadi orang yang dapat berpikir matang-matang sebelum bertindak dan mengambil keputusan. Hal-hal seperti itulah yang merupakan potensi yang dapat kita kembangkan dalam diri kita dengan adanya masalah.
Ketika membicarakan tentang hal ini, saya jadi teringat juga akan perbincangan seorang teman dengan teman saya yang sedang dirundung masalah. Teman saya yang sama sekali nggak ada tampang doyan nasehat, tiba-tiba aja nyeplos dengan perkataan yang begitu ringan namun maknanya begitu mendalam. Saya sebenarnya tidak sengaja mendengarnya, saat itu seketika menjadi speechless.
Situasinya adalah Y menceritakan segala keluh kesahnya kepada X. Entah bagaimana sepertinya X sudah mencoba melakukan berbagai cara untuk meredakan kesedihan X. Akhirnya, tiba-tiba aja si X berkata:
X: "Yaudahlah, sabar aja..emng udah jalannya kayak begini"
Y: Terdiam sambil menahan rasa sedihnya
X: "Nggak usah dibuat susahlah..punya Tuhan nggak lo?!"
Y: "Ya punyalah!!"
X: "Ya udah klo gitu..santai aja. Jangan kayak orang nggak punya Tuhan"
 
Selain ceplas-ceplos saya di atas, yukk kita pahami beberapa dalil di bawah. Ternyata, Allah itu memberikan ujian kepada kita pun bukan semata-mata tidak ada maksudnya. Namun, ujian-ujian itu sebagai:
1. Prasayarat Menjadi Mu'min
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan:  "Kami telah beriman", dan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabut: 2-3) 

2. Menguji Kesungguhan dan Keshabaran serta Memperoleh Pengampunan
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji pada kamu seklian sehingga Kami mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bershabar di antara kalian..
(QS. Muhammad: 31) 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sesuatu dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, diri kalian, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang shabar, (yaitu) orang-orang yang ketika ditimpa musibah, mereka mengucapkan:  "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun ". Mereka itulah yang memperoleh pengampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157)

Rasulullah SAW bersabda: tidak menimpa pada orang Islam dari payah (karena sakit yang terus-menerus),  tidak juga dari susah (karena cita-cita yang belum tercapai), tidak juga dari susah (krena kesedihan di masa lalu), tidak juga dari gangguan (yang menyakitkan hati), dan tidak juga dari susah (yang sedang dialami) sehingga mengenainya kecuali Allah menghapus dari beberapa kesalahan.(HR. Bukhari) 

3. Syarat Menjadi Ahlul Jannah
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh kemelaratan, penderitaan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata:  "Kapankah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)
 


Well, semoga tulisan ini bisa bermanfaat, terutama bagi sahabat-sahabat yang seringkali merasa pesimis ketika datangnya ujian..
Seberat apapun itu, hidup ini harus tetap berjalan..
Maka, sesungguhnya terus-menerus terpuruk dengan keadaan atau bangkit dari keterpurukan itu merupakan PILHAN sahabat-sahabat sendiri.
Ingatlah, bahwa sebesar apapun masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita memiliki Allah yang Maha BESAR..Ia lah yang Maha Berkehendak, segala ujian pun datangnya dari-Nya. Maka mintalah pertolongan kepada-Nya atas segala permasalahan kita. 

Tetap SEMANGAT, OPTIMIS, dan TERSENYUM lah, Kawan!! ^_^

Thursday, July 10, 2008

Hidup Bukan Untuk Dimengerti



Setahun yang lalu saya mengenal sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Judika - Indonesian Idol dalam album perdananya. Lagu tersebut berjudul “Bukan Untuk Dimengerti”. Tapi, saya di sini tidak akan membahas mengenai lagu tersebut apalagi promosi. Hanya saja dalam liriknya terdapat kalimat sebuah kalimat yang berbunyi “bukan untuk dimengerti, karena takkan kumengerti”. Menurut saya siyh lirik tersebut kena banget sama makna kehidupan. Kenapa? Hmm..setuju nggak sih klo hidup tuh emang sulit untuk dimengerti. Terlalu banyak misteri and rahasia-rahasia Ilahi di sana yang tak dapat ditembus oleh akal pikiran kita.

Contohnya aja bagaimana mungkin seseorang yang telah menusuk kita dari belakang, bisa menjadi teman dekat kita? Mengapa ada orang yang intensitas belajarnya lebih rendah dari kita dapat dengan mudah mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari kita? Mengapa orang yang beriman bisa mendapatkan musibah yang jauh lebih berat dibandingkan sang ahli maksiat? Bagaimana bisa orang yang telah kita nilai baik dan kita saluti, ternyata malah menilai jelek diri kita dengan membabi buta? Atau ketika kita menilai negatif seseorang, ia justru jauh lebih baik dari apa yang sudah kita pikirkan. Itu semua tidak lain adalah berada di bawah kekuasaan Allah Azza wa Jalla dan Ia memiliki rencana tersendiri atas hamba-hamba Nya. Subhanallah..

Manusia hanya bisa menerka. Meskipun terkadang terkaan kita itu benar, tapi nggak jarang juga terkaan kita mengenai kehidupan meleset. Mungkin bila itu hal kecil, tidak terlalu menjadi masalah. Tapi, ketika itu mengenai ‘Big Thing‘. Tentunya itu membuat kita tercengang dan bingung. "Koq bisa?!, Bagaimana mungkin?!, Apa yang sebenarnya terjadi?!" dan ekspresi-ekspresi lainnya yang menggambarkan ketidakpercayaan sekaligus bingung mulai bermunculan. Dan kejadian-kejadian yang kita alami tidak akan ada habisnya bila kita terus-menerus memikirkan “koq bisa begini?!” Karena memang akal kita tidak akan mampu menjangkau rencana yang diberikan-Nya kepada kita.

Sedih, marah, kecewa, senang..Subhanallah..Ia lah dzat yang Maha Kuasa. Hingga kini saya dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa adakalanya kejadian dalam hidup ini bukan lah untuk dimengerti (mengerti tentang sebuah alasan). Walau pun demikian, kita tetap dapat menyerap hikmah yang terkandung dan hikmah ini lah yang harus kita temukan dalam setiap kejadian. Dengan hikmah, kemudian kita jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Fokus lah pada apa yang telah Allah mudahkan pada kita. Dirimu bukan lah kemarin dan bukan pula esok. Namun, dirimu adalah hari ini. Jadikan segala karunia-Nya sebagai penambah kesyukuran kita kepada Allah dan menjadikan cobaan dari-Nya sebagai batu loncatan untuk menggapai kemuliaan di sisi-Nya.

Thursday, June 12, 2008

Hikmah Dibalik Makan Es Durian





Hari Sabtu minggu kemarin, saya bersama 2 orang teteh-teteh satu kosan bermalam minggu bersama. Sebut saja nama mereka teh A dan teh D. Eits!! Tapi kita bukan ‘triple date’ lowh!! Bisa bahaya itu…hehe. Ya..sebenarnya hati ini agak berat untuk ikut jalan2 bareng mereka. Apalagi k2 teteh-teteh itu, ya..bsa dibilang agak sedikit linglung begitu. Ditambah belum ada tujuan yang pasti. Teruz, hari Seninnya masih UAS euY. Jadi rencananya mau belajar gitu..Tapi, apa boleh buat. Jarang kan kita pergi jalan bareng. Byar bisa lebih solid juga.

Singkat cerita, ba’da shalat Maghrib kita meluncur ke salah satu pusat keramaian di kota Bandung, yaitu Dago. Berhubung saya yang paling muda, jadi saya tidak terlalu banyak memberi masukan. Karena bingung mau kemana, akhirnya teh A dan teh D tiba-tiba saja membawa kaki saya melangkah ke sebuah kios Es durian. Saya mah nggak tau apa-apa ikut ajah dyeh. Lalu kita beli dyeh. “A’! pesen satu yah! Pake duriannya 3!”. Makan weh bareng2..begitu terasa kebesamaannya. Setelah kita mencicipi beberapa sendok, hmm..subhanallah..duriannya enak pisan. Cuma, sayang rasa air esnya (kuahnya) kurang memuaskan. Tawar gitu dyeh.. Tapi, kalo dipikir-pikir mah..ya..kebayarlah sama rasa duriannya. Nah, saya kaget ketika tiba2 teh A bilang,” Eh, D!! Kayanya ini bukan tempat yang kita cari dyeh!! Soalnya nggak terlalu enak. Duriannya siy enak banget, tapi masa rasa air es nya gitu". Teh D," Iya..Coba SMS teh R gih! Tanyain tempatnya es durian yang enak itu dimana?!". Setelah itu, ternyata memang bukan itu tempat es durian yang kita cari. Dan ternyata mereka bersi keras untuk menemukan tempat yang dimaksud. Lagi-lagi, ikut weh.. So, bis es duriannya abis, jalan weh..nyari tempat es durian yang dimaksud. Ternyata, lumayan jauh euy.. Oh, iya harga es durian yang tadi Rp. 8.000,-.

Setelah melewati perjalanan yang agak melelahkan..Finaly, kita berhasil menemukan tempat es durian yang dimaksud yang katanya ‘very..very delicious’. Lagi2 pesen 1 porsi untuk rame2..hehe. Nyicip dulu gtu..sekalian ngirit..hehe. Sambil menunggu es durian datang kita melihat2 sekitar dunkz.Ternyata harga es durian disitu Rp. 10.000,-. Padahal duriannya cuma 2 biji. Apa yang terbayang dipikiran kita atas hal tersebut? Wah! Pastinya enak duNkz. Kan ada harga, ada rasa. Belum lagi dengar kabar yang katanya..katanya..es durian di situ eNyak. Duh! Udah nggak sabar niyh..

Akhirya datang juga!!..(koq kaya nama acara di Trans TV yah?!..). Setelah kita mencicipi es tersebut, wah! Subhanallah..air es nya eNyak..tapi, sayang rasa duriannya sangat..sangat mengecewakan. Apalah artinya air es yang enak kalau duriannya tidak enak. Namanya juga es durian, tentunya durian lah yang jadi tokoh utamanya. Ya kan?!

Let we see the comparison:
Es pertama
-akses jalan yang dekat
-Rp. 8.000,-
-3 durian (delicious)

Es kedua
-akses jalan yang agak melelahkan
-Rp.10.000,-
-2 durian (terrible)

Tentulah es durian yang perama better than yang kedua. Dari kejadian tersebut, saya jadi teringat akan salah satu firman Allah kepada kita:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Qs. Al-Baqarah:216)
Betapa Allah selalu memberikan yang tebaik untuk hamba-hambanya. Namun, manusia lebinh banyak yang selalu saja mengeluh atas apa yang diberikan oleh Allah SWT. Kita lebih sering terkalahkan oleh nafsu yang tidak pernah merasa puas terhadap sesuatu dan kurang mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita. Bukannya introspeksi dan mensyukuri apa yang telah ada, tapi malah mengeluh, berkeluh kesah, marah, dan sebagainya karena kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Dalam kejadian ini, betapa Allah telah memberikan yang terbaik kepada saya dan teman saya (durian yang enak, harga lebih murah, n akses yang mudah dibanding es durian k2). Cuma, tetep weh nggak puas..Masya Allah..

Selain itu, peristiwa ini membuat saya teringat bahwa apa yang kita lihat and apa yang kita dengar belumlah pasti kebenarannya. So, kita sebagai umat Islam tidak sepatutnya meng-iyakan apa yang dikatakan orang lain tanpa mengetahui kebenarannya. Apalagi begitu dapat pesan langsung begitu saja kita forward ke banyak orang.

Sesugguhnya tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang kebetulan. Karena semuanya sudah diatur oleh dzat yang Maha Agung Allah SWT. Dan Ia selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Tugas kita adalah berusaha melewati segalanya penuh dengan keimanan and mengambil hikmah dari tiap-tiap kejadian..

Semoga kita dapat menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa menjaga hati n mensyukuri segala karunia-karunia-Nya..

Saturday, June 09, 2007

Kisah Sebuah Patung MARMER

Ada sebuah museum yang sangat besar. Di dalamnya terdapat beberapa patung marmer dan beralaskan lantai marmer yang indah. Patung itu dipasang di ruang utama dan selalu menjadi perhatian setiap pengunjung yang datang kesana. Orang-orang dari seluruh dunia berdatangan hanya untuk mengagumi keindahan patung itu. Pada suatu malam si Lantai Marmer berkata kepada patung itu, "Hei Patung Marmer, ini sungguh tidak adil...Sungguh tidak adil! Kenapa setiap orang yang datang hanya mengagumimu. Sementara mereka menginjakkan kakinya diatas tubuhku. Aku merasa terhina dengan ini semua, aku selalu diinjak-injak. Ini sungguh tidak adil!"


Patung itu terkejut. Tapi, itu tak sampai mengganggu ketenangannya, Ia menjawab "Tenang sobatku Lantai Marmer. Apakah kamu masih ingat, kita sesungguhnya berasal dari gua yang sama? Bukankah kita sama-sama lahir dari tempat itu? ". "Yeah, itu lah yang membuatku merasa diperlakukan tidak adil. Kita lahir dari tempat yang sama, namun kini kita mendapat perlakuan yan berbeda. Tidak adil!" seru si Lantai Marmer memotong kalimat sahabatnya. Patung diam sejenak, menunggu emosi Lantai Marmer sedikit reda. "Lalu apakah kamu juga masih ingat saat ada seorang pematung yang datang kepadamu, lalu kamu menolaknya?. Apakah kamu masih ingat saat kamu tidak mau diukir oleh pahat-pahat itu?" tanya patung lembut tapi tajam. "Ya, tentu saja aku masih ingat," ujar si Lantai, "Aku benci pria itu. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya? Pahat-pahat itu sangat menyakitkan". "Betul, pematung itu tak bisa bekerja membuat karya, sebab kamu menolak untuk diukirnya," sahut Patung. Lantai bertanya, "Lalu, apa hubungannya peristiwa itu dengan ketidakadilan yang aku terima?


"Sobatku, sabar," kata Patung lembut. "Setelah kamu menolaknya, pematung itu datang kepadaku dan mulai mengukirku. Aku tahu suatu saat aku akan tampil beda. Kerja kerasnya akan membuatku tampil lebih indah. Aku menerima pahat-pahatnya menghujam diri, walaupun begitu menyakitkan," jelas Patung panjang lebar. Lantai Marmer terdiam, "Sobatku, ada harga yang harus dibayar untuk semua keinginan di dunia ini, saat kau menolak untuk menerima semua cobaan, jangan salahkan orang lain jika mereka semua menginjak-injak tubuhmu," tegas Patung. Teman, memang ada harga untuk semua yang ada di dunia ini.


Kisah diatas sebauh gambaran tentang cobaan yang Allah berikan buat kita. Kita kerap enggan menjalani semua ujian dengan sabar. Banyak keputusasaan yang selalu menyertai kita acap kali diuji. Kita selalu mengeluh bahwa cobaan itu terlalu menyakitkan. Saat kita merasakan segala sesuatu " yang menyakitkan" itu, sesungguhnya Allah sedang "membentuk" kita dengan pahat-pahat-Nya. Memang menyakitkan. Tapi sekali lagi, ada harga untuk semua itu. Saat Allah memberikan kita ujian yang berat, maka disaat lain Ia juga menganugerahi nikmat yang banyak untuk kita. Teman, seperti inilah Allah membentuk kita.


Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan dan banyak air mata. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. Karena itu teman, apabila kau tengah dirundung cobaan, jangan kecil hati. Sikapilah itu dengan bahagia. Sebab, kau telah tahu hakikat "rasa sakit itu". Allah sedang membentukmu. Proses membentuk memang menyakitkan, tapi setelah selesai kau akan lihat betapa cantiknya Allah membentukmu. Dengan kesabaran itu kau pupuk pohon ujian itu dengan tekun. Dan ketekunan itu akan menghasilkan buah. Biarkan buah itu matang sempurna, Insya Allah kau akan berhasil keluar sebagai pemenang dengan hasil utuh sempurna, tak kurang suatu apapun.


Dari KeSuSaHan ItU akaN diDapaT Kesenangan.SeBaB durian BerDURi LaNtaRan EnaK isinya,KuLit ManggIs PaHit seBab Manis didalamnya,BuNga Ros BerDuri LanTaraN Harumnya
*dikutip dari cerpen seorang sahabat