Showing posts with label masalah. Show all posts
Showing posts with label masalah. Show all posts

Tuesday, May 20, 2014

Bola Itu Bulat

Ceritanya tiba-tiba saya mau ngebahas tentang sebuah "bola"
Kenapa? Karena saya suka banget sama benda yang namanya "bola"
Saya suka sama bentuknya yang bulat dan bisa mantul-mantul kalau dilempar *apasihh
Ok, pendahuluan di atas itu nggak penting sebenarnya.. mohon abaikan saja.. he

Jadi gini, waktu saya lagi main-main sama bola yang ada di kamar saya, tiba-tiba saya terinspirasi akan sesuatu..
Mungkin sudah sering kita mendengar tentang sebuah filosofi yang mengatakan bahwa semakin keras bola dibanting, maka semakin tinggi pula ia melambung ke atas
Filosofi itu punya makna bahwa masalah/ujian yang kita hadapi itu sebenarnya merupakan suatu sarana bagi kita untuk menaikkan level alias menjadikan diri kita pribadi yang lebih baik
Makin berat ujiannya, makin tinggi pula level kualitas diri kita kalau mampu melewatinya
Tapi sekarang saya bukan mau cerita tentang filosofi itu
Saya mau cerita tentang filosofi lain

Bicara soal bola yang selalu memantul ke atas saat ia dibanting dan semakin keras bantingannya maka akan semakin tinggi pula ia melambung
Tidak semua bola bisa memantul seperti itu
Itu hanya berlaku untuk bola yang penuh terisi angin
Bagi bola yang kempes, prinsip itu tidak berlaku karena bola tersebut tidak bisa memantul
Semantul-mantulnya bola itu akan tetap berada di bawah dekat dengan permukaan dimana ia dibanting

Angin dalam bola itu ibarat kadar keimanan kita
Bantingan itu ibarat ujian/masalah yang kita hadapi
Sebagaimana angin dalam bola, keimanan pun butuh dipompa (di-recharge)
Tidak bisa didiamkan begitu saja
Kalau tidak pernah dipompa, keimanan itu juga bisa makin kempes
Kalau kadar keimanan seseorang itu full atau setidaknya terisi banyak, seberat apapun masalah yang dihadapi insyaAllah tidak akan jadi masalah
Tetap semangat, ridha, dan optimis..
Tapi kalau kadar keimanannya sedang minim/kempes (futur), ini yang jadi masalah
Hasilnya akan sama kejadiannya seperti bola yang kempes, saat dapat masalah jadinya susah bangkit, berat, lemah semangat, menjalani hidup seakan tanpa nyawa/ruh, dsb.
Jangankan saat ada masalah, saat tidak bertemu masalah pun tanpa disertai keimanan bisa menjadikan kita salah niat dalam beraktifitas atau bahkan melakukan aktifitas tanpa ruh

Keimanan itu adalah input terpenting
Keimanan itu adalah segalanya
Dari keimananlah bisa muncul berbagai macam sifat maupun sikap positif
Semangat, positive thinking, optimis, yakin, dsb.
Kadang kita lupa akan kebutuhan input itu karena terlalu banyaknya aktifitas
Padahal aktifitas yang kita lakukan itu adalah bentuk dari output
Output itu adalah hasil pengolahan dari berbagai input
Bayangkan kalau tiap hari kita mengolah input yang kita punya untuk menghasilkan output, tapi input kita sendiri tidak pernah diisi ulang
Otomatis makin habis, kering, kopong, dsb.

So, sesibuk apapun kita.. jangan lupa untuk terus mengisi keimanan kita, baik itu dengan ibadah-ibadah harian maupun kajian-kajian keilmuan
Karena pompa keimanan itu adalah kebutuhan kita

Menghadapi Ujian, Ini Bukan Tentang "Masalah"

Dia yang tersenyum bukan berarti tak pernah menangis
Dia yang sehat bugar bukan berarti tak pernah terkapar sakit
Dia yang berada di puncak kegemilangan bukan berarti tak pernah tersungkur di lembah kegagalan
Dia yang melangkah dengan mantap bukan berarti tak pernah terhenti dalam kebimbangan
Dia yang dikagumi bukan berarti tak pernah dipandang sebelah mata
Dan masih banyak lagi dia-dia yang lain..

Intinya.. Hidup ini balance, Kawan. Ada susah, ada senang. Ada ujian, ada nikmat/karunia. Ibarat sebuat roda yang berputar, adakalanya tiap bagiannya itu berada di atas dan adakalanya pula berada di bawah. Masalah itu akan selalu ada dan menghampiri kita. Tapi justru dengan masalah itulah yang akan melatih kita (memberi peluang) menjadi insan yang lebih baik. Masalah itu adalah tarbiyah istimewa dari-Nya. Perumpamaannya itu bagaikan sebuah kendaraan yang baru bisa bergerak maju hanya jika tejadi gaya gesek antara permukaan roda dan jalan. Tanpa gaya gesek itu, roda kendaraan akan "slip" dan kendaraan pun tidak bisa bergerak. Begitu juga dalam hidup, kita butuh gesekan-gesekan yang akan melatih dan membuat kita lebih baik dari masa ke masa.

Tapi kenapa dia yang sebenarnya sedang dirundung masalah bisa terlihat biasa-biasa saja atau bahkan tersenyum dengan wajah yang sumringah nan menyejukkan?? Dia bukan sok kuat atau sok tabah. Ini bukan tentang itu, tapi ini tentang sebuah cara/jalan yang dia dipilih. Ketahuilah bahwa sebenarnya bukan "masalah" lah yang akan menjadi masalah kita, melainkan bagaimana cara kita menghadapi "masalah" tersebut.

Jadi poin penting dari semua masalah kita itu sebenarnya adalah cara/jalan yang kita pilih. Sebagai umat yang mempercayai akan adanya Allah, sudah seharusnya kita serahkan segala urusan kita pada-Nya. Mulailah dengan penerimaan. Penerimaan di sini maksudnya kita ridha akan ujian yang Ia berikan kepada kita. Apapun yang terjadi, tetaplah berprasangka baik pada Allah (husnudzan billah) bahwa Ia selalu punya rencana yang lebih baik dari segala perencanaan yang kita pikirkan. Hanya saja seringkali logika kita tidak sampai untuk menalar skenario-Nya dan malah lebih terfokuskan pada ujian/masalahnya, bukan pada hikmahnya.

So, kita memang harus berlatih untuk bisa memfokuskan diri pada hikmah dari tiap kejadian/ujian (menjadi ahli hikmah). Untuk melatihnya pun tentu tidak bisa hanya dengan satu permasalahan kan. Butuh berkali-kali, namanya juga latihan. Jika kita sudah terbiasa dengan fokus pada hikmah, insyaAllah akan menjadikan kita tidak mudah down, stres, ataupun mengeluh saat ujian itu datang, bahkan sebaliknya kita justru akan bersyukur karena kita tahu akan hikmah dibalik ujian tersebut.

Satu hal, kita harus selalu yakin bahwa ada maksud dari tiap ujian yang diberikan Allah kepada kita. Bisa jadi Dia sedang mengingatkan kita, bisa jadi Dia ingin menaikkan level kualitas diri kita, bisa jadi Dia menguji untuk mengimbangi dosa-dosa kita yang sudah terlalu banyak dengan pahala, atau bisa jadi Dia memang sedang menguji sejauh mana keimanan kita.

"Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata kami beriman, padahal mereka belum diuji" (QS. Al-Ankabut: 2)

Jika kita meyakini Allah itu ada dan mengakui bahwa Dia lah yang Maha Besar, lalu mengapa masih saja gundah gulana? Bukankah Ia berjanji bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan? Bukankah sudah jadi ketentuan-Nya pula bahwa Ia tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya? Itu berarti Allah tahu bahwa kita mampu menghadapinya.

Pertolongan Allah itu luas. Kita tidak perlu memikirkan darimana datangnya pertolongan itu karena bahkan logika kita tidak akan mampu mencapainya. Biarkan skenario Allah yang bercerita. Sesungguhnya Ia akan mengirimkan pertolongan-Nya dari arah yang tak disangka-sangka.

Cukup berprasangka baik saja pada-Nya karena Ia sebagaimana persangkaan kita. Allah knows the Best. Bukan kah kita semua menginginkan hal-hal yang baik? Lalu mengapa kita tidak berprasangka yang baik pula pada-Nya?

Mungkin kita memiliki masalah yang begitu Besar, tapi ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang Maha Besar

Teguhkan Pendirian, maksimalkan Ikhtiar, terus Berdo'a, dan.. Keep Fighting!! SemangKa!!

Monday, June 20, 2011

Punya Tuhan Nggak Lo?!

Wah! Cukup lama juga ya saya nggak nulis. Ok deh, kali ini saya mencoba menungkap sebuah fenomena dalam kehidupan. Fenomena yang terjadi adalah ada orang yang hidupnya terlihat begitu tenang dan tidak ada beban, tapi di lain sisi ada orang yang hidupnya seakan-akan selalu dijepit oleh berbagai problematika kehidupan. Lalu, benarkah orang yang terlihat hidupnya selalu tenang dan tidak ada beban itu ia tidak pernah ditimpa suatu masalah pun? Kalaupun ada, apakah masalah yang ia hadapi tidaklah seberat masalah yang dihadapi oleh orang yang hidupnya seakan-akan selalu dijepit oleh berbagai problematika kehidupan?

Kata siapa?!
Faktanya, semua orang PASTI mempunyai beban dan pernah menghadapi suatu masalah yang berat dalam hidupnya. Namun yang membedakannya adalah dari bagaimana cara ia menghadapi segala masalah yang ia temui. Ia begitu yakin bahwa pertolongan Allah itu begitu dekat, ia pun yakin akan janji Allah yang mengatakan bahwa "bersama kesulitan itu ada kemudahan", dan ia selalu ridha dengan segala ketentuan Allah yang insyaAllah ada hikmah dibalik setiap kejadian.

Ia benar-benar meyakini bahwa sebesar apapun masalah yang ia hadapi, maka sesungguhnya ia memiliki Allah yang Maha BESAR.. 
Lalu, apalagi yang masih kita khawatirkan?? 
Ujian itu diberikan memang berbeda-beda kepada setiap orang. Bila suatu ujian diberikan kepada fulan X, mungkin baginya akan terasa berat. Namun bila ujian tersebut diberikan kepada fulan Y, mungkin akan terasa ringan. Itu karena kapasitas fulan X dan Y yang jelas berbeda.
Tapi, bukan berarti fulan Y nggak pernah dapet ujian yang berat. Tentu dia pun pernah dan akan diberikan ujian sesuai dengan kapasitasnya (tidak setingkat dengan ujian yang diberikan kepada fulan X, bahkan bisa jadi ujian yang diberikan kepadanya jauh lebih berat). Namun, dia bisa tetap tersenyum dan berdiri tegar karena keyakinannya akan Allah itu..So, pada intinya baik itu fulan X dan Y sama-sama punya ujian masing-masing kan?
"Sama" di sini bukanlah diartikan dengan tingkatan yang sama. Contohnya saja ketika murid SD yang mengikuti ujian nasional, tentu saja soal yang diberikan bukanlah soal yang ecek-ecek. Sesuai dengan tingkatan mereka, mereka akan merasa soal-soal tersebut bukanlah soal yang mudah. Lalu bagi siswa SMP yang juga mengikuti ujian nasional, mereka pun memiliki soal-soal sendiri. Meski namanya sama-sama "ujian nasional", tapi mereka diberikan soal-soal yang berbeda, yaitu sesuai dengan tingkatan mereka (bukan lagi soal-soal ujian nasional untuk tingkat SD). Dan bagi murid SMP pun akan merasa soal-soal ujian mereka bukanlah soal yang mudah. Dengan demikian, baik itu murid SD maupun SMP "sama-sama" mendapatkan soal yang tidak mudah bagi mereka. Seperti itulah perumpamaannya.
Jadi, sekarang udah tau kan bahwa semua orang PASTI punya yang namanya beban dan masalah yang berat dalam hidupnya. Bukan hanya Anda, Saya, atau Mereka. Tapi yang membedakan orang satu dengan yang lainnya adalah cara bagaimana ia menghadapi semua itu. So, jangan jadikan suatu masalah atau beban itu sebagai satu alasan yang membuat hidup kita terpuruk dan menderita. Masalah itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dengan bijak.
Seorang yang PESIMIS akan berpikir bahwa suatu masalah akan menjadi faktor penghambat atau bahkan yang dapat menekan ia pada suatu keterpurukan. Namun seorang yang OPTIMIS akan berpikir bahwa segala masalah yang ada justru merupakan suatu peluang untuk menjadikan ia lebih baik, menjadikan ia semakin tangguh dalam kehidupan, dan memberi ia kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya.
Lah kok bisa mengembangkan potensi? Gimana caranya??
Eitss!! Potensi itu kan sesuatu yang bisa dikembangkan. Jangan pikir yang namanya potensi itu cuma bakat-bakat kita aja sejenis main basket, main musik, nulis, dll.  Coba deh, orang pertama-tama bisa sabar pas dia lagi diuji, ke depannya pun insyaAllah orang itu akan lebih mudah untuk sabar ketika diberikan ujian-ujian selanjutnya. Semakin banyak masalah yang ia hadapi, semakin sering ia terlatih untuk bersikap sabar. 
Ketika seseorang berhasil mengatasi suatu masalah pun, ia akan mendapatkan sebuah pengalaman. Dengan demikian akan memperkaya dirinya dalam mendapatkan referensi untuk keperluan pengambilan keputusan dalam hidupnya ke depannya. Membuat ia menjadi orang yang dapat berpikir matang-matang sebelum bertindak dan mengambil keputusan. Hal-hal seperti itulah yang merupakan potensi yang dapat kita kembangkan dalam diri kita dengan adanya masalah.
Ketika membicarakan tentang hal ini, saya jadi teringat juga akan perbincangan seorang teman dengan teman saya yang sedang dirundung masalah. Teman saya yang sama sekali nggak ada tampang doyan nasehat, tiba-tiba aja nyeplos dengan perkataan yang begitu ringan namun maknanya begitu mendalam. Saya sebenarnya tidak sengaja mendengarnya, saat itu seketika menjadi speechless.
Situasinya adalah Y menceritakan segala keluh kesahnya kepada X. Entah bagaimana sepertinya X sudah mencoba melakukan berbagai cara untuk meredakan kesedihan X. Akhirnya, tiba-tiba aja si X berkata:
X: "Yaudahlah, sabar aja..emng udah jalannya kayak begini"
Y: Terdiam sambil menahan rasa sedihnya
X: "Nggak usah dibuat susahlah..punya Tuhan nggak lo?!"
Y: "Ya punyalah!!"
X: "Ya udah klo gitu..santai aja. Jangan kayak orang nggak punya Tuhan"
 
Selain ceplas-ceplos saya di atas, yukk kita pahami beberapa dalil di bawah. Ternyata, Allah itu memberikan ujian kepada kita pun bukan semata-mata tidak ada maksudnya. Namun, ujian-ujian itu sebagai:
1. Prasayarat Menjadi Mu'min
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan:  "Kami telah beriman", dan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabut: 2-3) 

2. Menguji Kesungguhan dan Keshabaran serta Memperoleh Pengampunan
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji pada kamu seklian sehingga Kami mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bershabar di antara kalian..
(QS. Muhammad: 31) 

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sesuatu dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, diri kalian, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang shabar, (yaitu) orang-orang yang ketika ditimpa musibah, mereka mengucapkan:  "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun ". Mereka itulah yang memperoleh pengampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157)

Rasulullah SAW bersabda: tidak menimpa pada orang Islam dari payah (karena sakit yang terus-menerus),  tidak juga dari susah (karena cita-cita yang belum tercapai), tidak juga dari susah (krena kesedihan di masa lalu), tidak juga dari gangguan (yang menyakitkan hati), dan tidak juga dari susah (yang sedang dialami) sehingga mengenainya kecuali Allah menghapus dari beberapa kesalahan.(HR. Bukhari) 

3. Syarat Menjadi Ahlul Jannah
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh kemelaratan, penderitaan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata:  "Kapankah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)
 


Well, semoga tulisan ini bisa bermanfaat, terutama bagi sahabat-sahabat yang seringkali merasa pesimis ketika datangnya ujian..
Seberat apapun itu, hidup ini harus tetap berjalan..
Maka, sesungguhnya terus-menerus terpuruk dengan keadaan atau bangkit dari keterpurukan itu merupakan PILHAN sahabat-sahabat sendiri.
Ingatlah, bahwa sebesar apapun masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita memiliki Allah yang Maha BESAR..Ia lah yang Maha Berkehendak, segala ujian pun datangnya dari-Nya. Maka mintalah pertolongan kepada-Nya atas segala permasalahan kita. 

Tetap SEMANGAT, OPTIMIS, dan TERSENYUM lah, Kawan!! ^_^

Thursday, July 10, 2008

Hidup Bukan Untuk Dimengerti



Setahun yang lalu saya mengenal sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Judika - Indonesian Idol dalam album perdananya. Lagu tersebut berjudul “Bukan Untuk Dimengerti”. Tapi, saya di sini tidak akan membahas mengenai lagu tersebut apalagi promosi. Hanya saja dalam liriknya terdapat kalimat sebuah kalimat yang berbunyi “bukan untuk dimengerti, karena takkan kumengerti”. Menurut saya siyh lirik tersebut kena banget sama makna kehidupan. Kenapa? Hmm..setuju nggak sih klo hidup tuh emang sulit untuk dimengerti. Terlalu banyak misteri and rahasia-rahasia Ilahi di sana yang tak dapat ditembus oleh akal pikiran kita.

Contohnya aja bagaimana mungkin seseorang yang telah menusuk kita dari belakang, bisa menjadi teman dekat kita? Mengapa ada orang yang intensitas belajarnya lebih rendah dari kita dapat dengan mudah mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari kita? Mengapa orang yang beriman bisa mendapatkan musibah yang jauh lebih berat dibandingkan sang ahli maksiat? Bagaimana bisa orang yang telah kita nilai baik dan kita saluti, ternyata malah menilai jelek diri kita dengan membabi buta? Atau ketika kita menilai negatif seseorang, ia justru jauh lebih baik dari apa yang sudah kita pikirkan. Itu semua tidak lain adalah berada di bawah kekuasaan Allah Azza wa Jalla dan Ia memiliki rencana tersendiri atas hamba-hamba Nya. Subhanallah..

Manusia hanya bisa menerka. Meskipun terkadang terkaan kita itu benar, tapi nggak jarang juga terkaan kita mengenai kehidupan meleset. Mungkin bila itu hal kecil, tidak terlalu menjadi masalah. Tapi, ketika itu mengenai ‘Big Thing‘. Tentunya itu membuat kita tercengang dan bingung. "Koq bisa?!, Bagaimana mungkin?!, Apa yang sebenarnya terjadi?!" dan ekspresi-ekspresi lainnya yang menggambarkan ketidakpercayaan sekaligus bingung mulai bermunculan. Dan kejadian-kejadian yang kita alami tidak akan ada habisnya bila kita terus-menerus memikirkan “koq bisa begini?!” Karena memang akal kita tidak akan mampu menjangkau rencana yang diberikan-Nya kepada kita.

Sedih, marah, kecewa, senang..Subhanallah..Ia lah dzat yang Maha Kuasa. Hingga kini saya dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa adakalanya kejadian dalam hidup ini bukan lah untuk dimengerti (mengerti tentang sebuah alasan). Walau pun demikian, kita tetap dapat menyerap hikmah yang terkandung dan hikmah ini lah yang harus kita temukan dalam setiap kejadian. Dengan hikmah, kemudian kita jalani hidup dengan sebaik-baiknya. Fokus lah pada apa yang telah Allah mudahkan pada kita. Dirimu bukan lah kemarin dan bukan pula esok. Namun, dirimu adalah hari ini. Jadikan segala karunia-Nya sebagai penambah kesyukuran kita kepada Allah dan menjadikan cobaan dari-Nya sebagai batu loncatan untuk menggapai kemuliaan di sisi-Nya.

Saturday, June 09, 2007

Kisah Sebuah Patung MARMER

Ada sebuah museum yang sangat besar. Di dalamnya terdapat beberapa patung marmer dan beralaskan lantai marmer yang indah. Patung itu dipasang di ruang utama dan selalu menjadi perhatian setiap pengunjung yang datang kesana. Orang-orang dari seluruh dunia berdatangan hanya untuk mengagumi keindahan patung itu. Pada suatu malam si Lantai Marmer berkata kepada patung itu, "Hei Patung Marmer, ini sungguh tidak adil...Sungguh tidak adil! Kenapa setiap orang yang datang hanya mengagumimu. Sementara mereka menginjakkan kakinya diatas tubuhku. Aku merasa terhina dengan ini semua, aku selalu diinjak-injak. Ini sungguh tidak adil!"


Patung itu terkejut. Tapi, itu tak sampai mengganggu ketenangannya, Ia menjawab "Tenang sobatku Lantai Marmer. Apakah kamu masih ingat, kita sesungguhnya berasal dari gua yang sama? Bukankah kita sama-sama lahir dari tempat itu? ". "Yeah, itu lah yang membuatku merasa diperlakukan tidak adil. Kita lahir dari tempat yang sama, namun kini kita mendapat perlakuan yan berbeda. Tidak adil!" seru si Lantai Marmer memotong kalimat sahabatnya. Patung diam sejenak, menunggu emosi Lantai Marmer sedikit reda. "Lalu apakah kamu juga masih ingat saat ada seorang pematung yang datang kepadamu, lalu kamu menolaknya?. Apakah kamu masih ingat saat kamu tidak mau diukir oleh pahat-pahat itu?" tanya patung lembut tapi tajam. "Ya, tentu saja aku masih ingat," ujar si Lantai, "Aku benci pria itu. Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya? Pahat-pahat itu sangat menyakitkan". "Betul, pematung itu tak bisa bekerja membuat karya, sebab kamu menolak untuk diukirnya," sahut Patung. Lantai bertanya, "Lalu, apa hubungannya peristiwa itu dengan ketidakadilan yang aku terima?


"Sobatku, sabar," kata Patung lembut. "Setelah kamu menolaknya, pematung itu datang kepadaku dan mulai mengukirku. Aku tahu suatu saat aku akan tampil beda. Kerja kerasnya akan membuatku tampil lebih indah. Aku menerima pahat-pahatnya menghujam diri, walaupun begitu menyakitkan," jelas Patung panjang lebar. Lantai Marmer terdiam, "Sobatku, ada harga yang harus dibayar untuk semua keinginan di dunia ini, saat kau menolak untuk menerima semua cobaan, jangan salahkan orang lain jika mereka semua menginjak-injak tubuhmu," tegas Patung. Teman, memang ada harga untuk semua yang ada di dunia ini.


Kisah diatas sebauh gambaran tentang cobaan yang Allah berikan buat kita. Kita kerap enggan menjalani semua ujian dengan sabar. Banyak keputusasaan yang selalu menyertai kita acap kali diuji. Kita selalu mengeluh bahwa cobaan itu terlalu menyakitkan. Saat kita merasakan segala sesuatu " yang menyakitkan" itu, sesungguhnya Allah sedang "membentuk" kita dengan pahat-pahat-Nya. Memang menyakitkan. Tapi sekali lagi, ada harga untuk semua itu. Saat Allah memberikan kita ujian yang berat, maka disaat lain Ia juga menganugerahi nikmat yang banyak untuk kita. Teman, seperti inilah Allah membentuk kita.


Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan dan banyak air mata. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. Karena itu teman, apabila kau tengah dirundung cobaan, jangan kecil hati. Sikapilah itu dengan bahagia. Sebab, kau telah tahu hakikat "rasa sakit itu". Allah sedang membentukmu. Proses membentuk memang menyakitkan, tapi setelah selesai kau akan lihat betapa cantiknya Allah membentukmu. Dengan kesabaran itu kau pupuk pohon ujian itu dengan tekun. Dan ketekunan itu akan menghasilkan buah. Biarkan buah itu matang sempurna, Insya Allah kau akan berhasil keluar sebagai pemenang dengan hasil utuh sempurna, tak kurang suatu apapun.


Dari KeSuSaHan ItU akaN diDapaT Kesenangan.SeBaB durian BerDURi LaNtaRan EnaK isinya,KuLit ManggIs PaHit seBab Manis didalamnya,BuNga Ros BerDuri LanTaraN Harumnya
*dikutip dari cerpen seorang sahabat

Wednesday, May 23, 2007

Urgensi InTrospeKsi Diri DaLam Menghadapi MasaLah

DaLam dunia ini, tidak ada satu manusia pun yang hidup tanpa mendapaTkan uJian dari-Nya karena ALLah pun tidak begiTu saja menerima hamba2-Nya yang teLah mengaku beriman sebeLum mereka seMua mendapatkan uJian dari-Nya. Janganlah dirimu menghadapi masaLah dengan merasa, bahwa kamu adalah orang yang paling malang di dunia ini, yang memikul beban terberat di banding yang lain. Tetapi lihatlah sisi lainnya. Itrospeksi diri adalah cara yang paling tepat dalam menghadapi suatu masalah. Pikirkan..
  • Apakah kita sepenuhnya tidak melakukan kesalahan. Pada umumnya kita sudah Lebih dahuLu dikuasai oLeh hawa nafsu dan amarah, sehingga yang sering kita Lakukan adaLah hanya menyaLahkan pihak Lain tanpa mengintrospeksi diri sendiri.
  • BiLa kiTa merasa tersakiti, pikirkan apakah sebeLumnya kita sama sekali tidak menyakiti hati orang tersebut atau hati orang lain. Sering kaLi kiTa menganggap diri kitalah yang paling disakiti, padahaL segaLa sesuaTu itu terjadi atas dasar sebab dan akibat, karena seLain merupakan uJian segaLa sesuatu itu juga dapaT merupakan baLasan terhadap apa yang teLah kiTa perbuaT.
  • Apakah kita terlalu mendramatisir masalah sehingga masalah yang kita hadapi terlihat menjadi besar.
  • Pikirkan bagaimana seharusnya kita sebagai orang yang beriman menghadapi masalah tersebut. Jangan sampai masaLah yang kita hadapi malah membawa kiTa pada kekhiLafan karena hanya mengikuti emosi jiwa yang menyimpang dari syariaT agaMa IsLam.
  • PiKirkan puLa apakah kita telah pantas untuk disebut sebagai orang yang beriman dengan tekhnik menghadapi masalah yang kita gunakan.
Bila kita bisa bermuhasabah dengan sungguh-sungguh, insya 4JJI kita akan menydari kesalahan dan kekurangan yang ada pada diri kita yang sebenarnya dan tidak terus-menerus menyalahkan pihak lain atas masalah kita. Dengan begitu, insYa 4JJI kiTa dapaT menemukan hikMah di baLik seTiap uJian yang diberikan-Nya kepada kiTa. Ingat, saat kita menunjuk orang lain dengan satu jari telunjuk, ada empat jari lainnya yang mengarah pada diri kita.

WaLLahu 'aLam..