Showing posts with label muslimah. Show all posts
Showing posts with label muslimah. Show all posts

Monday, April 28, 2014

Menjadi Wanita Berkarakter

Alhamdulillah Jum’at kemarin ceritanya saya dapet kesempatan buat berbagi di kelas keputrian yang diadain sama LDF Al-Fath TEBS. Padahal rencana awalnya itu kepingin shilaturrahim aja sama Kemuslimahan Al-Fath TEBS dengan jadi peserta biasa. Berhubung udah lama juga, akhirnya dengan mantap saya meng-iya-kan permintaan dari adik-adik tercinta itu. Yah walaupun pas penyampaian materi mungkin nggak se-yahud dulu waktu masih aktif di kepengurusan. Maklum udah lama nggak bercuap-cuap jadi pemateri, jadinya agak-agak gimana gitu rasanya..hehe

Nah, di kesempatan kemarin saya ngasih materi sebagaimana yang ada di judul tulisan ini, yaitu tentang Menjadi Wanita Berkarakter. Karakter itu sendiri adalah potret diri seseorang atau ketegasan suatu sikap yang tercermin pada tingkah laku seseorang yang membedakan dirinya dengan yang lainnya. Kenapa saya milih materi tersebut? Karena jika kita perhatikan, banyak sekali fenomena tentang krisis kepribadian (karakter) di tengah zaman yang kian nggak karuan ini, terlebih lagi dalam konteks kita sebagai seorang muslimah. Kebanyakan dari sebagian orang hanya bisa terbawa trend (ikut-ikutan) tanpa lebih memikirkan lagi baik/buruknya trend tersebut atau sesuai/tidak kah trend tersebut dengan aturan Allah. Padahal seharusnya kita mampu membuat/punya trend kita sendiri sebagai seorang muslimah dan punya prinsip yang kuat.

Contoh trend yang sekarang banyak membuat krisis kepribadian itu di antaranya istilah "Kepo" sudah mempersempit makna dari sebuah kata "Peduli". Banyak orang yang jadi ciut nyalinya untuk peduli/perhatian kepada orang lain/sesuatu hanya karena takut/nggak mau dibilang kepo, bahkan untuk niat kebaikan sekalipun. Jika karakter kita nggak mengalami krisis, maka kita bisa menjawab dengan tegas "Ya saya memang perlu tau karena itu kan menyangkut pekerjaan kita" atau "Saya itu peduli/perhatian, bukan sekedar mau tau urusan orang", dsb. Ada juga saat orang lain curhat eh malah bilang "Terus gw harus bilang Wow gtu?!" atau "Itu sih derita lo". Ada orang yang ngasih nasihat karena peduli sama kita eh malah bilang "Terus masalah buat lo?!", dsb. Kita harus sadar bahwa sebenarnya trend kata-kata ini sudah menghilangkan budaya sopan santun dan empati kita, juga mengajarkan kita untuk semakin individualis dan berbuat semau gw (nggak mau nerima kritik/masukan). Parahnya lagi kata-kata seperti itu bisa membuat orang lain sakit hati. Padahal islam sendiri mengajarkan kita untuk senantiasa bertata krama, peduli, dan saling menasihati.

Contoh lain dari sebuah krisis kepribadian adalah seseorang yang terlahir sebagai seorang wanita teapi ia ingin menjadi seorang laki-laki atau sebaliknya, juga termasuk di dalamnya adalah persoalan seorang wanita beragama islam (muslimah) tetapi ingin berpenampilan sebagaimana wanita-wanita di luar agama islam. Jika karakter kita kuat, maka tidak peduli seperti apapun dunia ini berputar, kita akan tetap bangga dan kokoh dengan kemuslimahan kita. Mungkin sahabat pernah menemukan kejadian di mana seorang wanita yang dulunya istiqamah dengan busana syar’i namun tiba-tiba berubah setelah memasuki dunia kerja menjadi busana yang kurang menutupi aurat (memperlihatkan lekuk tubuh, jilbab pendek, lengan baju ¾, dsb.) hanya agar terlihat fashionable mengikuti trend saat ini dan nggak mau/takut dibilang ketinggalan zaman, anak pesantren, atau ibu-ibu pengajian. Tentu hal ini adalah suatu kemunduran akibat dari terjadinya krisi kepribadian. Padahal nggak ada istilah ketinggalan zaman untuk busana syar'i karena aturan agama itu berlaku sepanjang masa. Selain itu, dari perusahaan-perusahaan sendiri tidak ada aturan khusus yang melarang seorang muslilmah mengenakan busana syar'i, kecuali untuk posisi-posisi tertentu seperti pramugari, customer service, dll. (saran saya: maka indarilah pekerjaan-pekerjaan untuk posisi tersebut).

So, kita jangan hanya ngikutin/kebawa arus trend yang sebenarnya sifatnya optional, ngikut gitu aja bagaikan aliran air. Padahal air itu kan mengalir makin lama makin ke bawah. Kita harus memikirkan sacara jelas dan tahu apa alasan kita melakukan sesuatu. Jangan hanya mengikuti zaman karena zaman itu makin lama akan semakin rusak. That’s why, kita harus jadi muslimah yang berkarakter.

Dari Anas r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidaklah datang kepada kalian hari atau zaman kecuali yang setelahnya itu lebih buruk (dari sebelumnya)” [HR.Bukhari & Ahmad]

Sekarang kita bahas, apa aja sih yang dibutuhin biar kita bisa jadi wanita yang berkarakter dan nggak terjangkit yang namanya krisis kepribadian?

Visi dan Misi
Visi utama yang harus kita pegang sebagai makhluk ciptaan-Nya adalah masuk ke dalam surga-Nya. Pasti di antara kita ingin kan masuk surga? Saya teringat sewaktu saya kuliah Leadership dulu, dosen saya bilang bahwa visi yang baik adalah sesuatu yang sulit untuk dicapai. Visi ini berbeda dengan tujuan atau target yang pencapaiannya dapat dilihat/diukur secara langsung. Namun, visi inilah yang akan menjadikan guide line kita. Kita nggak akan pernah tahu apakah kelak kita benar-benar dimasukkan ke dalam surga oleh-Nya, tapi insyaAllah semoga dengan visi tersebut akan membawa kita menjadi pribadi dengan amalan-amalan para ahli surga, yang kemudian bisa mengantarkan kita pada surga-Nya. Adapun jika kita punya visi lain dari itu sah-sah aja (ex: jadi pengusaha sukses) asalkan tidak menomorduakan visi kita untuk masuk surga, jadi sifatnya hanya pendamping. Dari visi tersebut lahirlah 2 misi kita di muka bumi ini, yaitu misi kehambaan dan misi kekhalifahan. 

Sebagai pembawa misi kehambaan tugas kita hanyalah beribadah sebagaimana firman Allah di QS. Ad-Dzariyat: 56. So, apapun yang kita lakukan harus diniatkan untuk ibadah semata, bukan hanya untuk kesenangan pribadi, apalagi cuma untuk ngikutin trend atau kelihatan gaul. Berbusana untuk ibadah, kuliah (menuntut ilmu) untuk ibadah, makan untuk (menunjang) ibadah, bekerja (mencari maisyah) untuk ibadah, dsb.

Sebagai pembawa misi kekhalifahan, maka kita bukanlah pemilik yang hakiki. Tidak pantas sama sekali bagi kita untuk bersikap sombong karena sesungguhnya segala yang kita punya hanyalah merupakan barang titipan dari Allah, semahal apapun itu. Maka, tidak diperkenankan pula bagi kita sedih yang berkepanjangan saat benda-benda tersebut diambil kembali oleh-Nya sewaktu-waktu. Dan sebagai orang yang dititipi, kita wajib untuk menjaganya. Jadi jangan mentang-mentang orangtua kita banyak duit dan bisa membelikan ini-itu dengan mudah, terus kita jadi seenaknya saja menggunakan barang. Itu tetaplah titipan dari Allah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Hal ini berlaku juga untuk alam semesta yang harus kita jaga. Jika ingin mengetahui lebih mendalam bahasan tentang Visi-Misi seorang manusia, silahkan baca di sini.

Hidup tanpa visi itu bagaikan kita jalan jauh-jauh tapi nggak tahu mau kemana. Capek, tapi nggak dapet apa-apa. Sayang kan..

Berakhlaq
Seperti yang kita tau bahwa Rasulullah S.A.W. diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia di muka bumi ini. Maka, bisa kita lihat bahwa begitu pentingnya urusan akhlaq ini. Seringkali manusia terlalu fokus pada kecantikan luar (tubuh) masing-masing. Melakukan perawatan ini-itu, tapi terlupa untuk melakukan perawatan kecantikan dalamnya yang kemudian teraplikasi berupa akhlaq yang mulia. Padahal itulah kecantikan yang hakiki karena kecantikan dari dalam akan memancarkan kecantikan luar dengan sendirinya. Maka ada seorang ahli syukur berkata:

“Bila kamu bercermin dan kemudian dirimu merasa tidak cantik/rupawan, maka percantik lah dengan akhlaq. Bila kamu bercermin dan merasa cantik/rupawan, maka jangan kau rusak dengan akhlaq mu..”

Dalam sebuah hadits pun dikatakan bahwa “Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah” [HR. Muslim]. So, sudah seharusnya kita memberi perhatian khusus untuk perihal akhlaq. Jadilah muslimah shalihah dengan karakter pribadi yang baik, di antaranya: santun, ramah, peduli pada sesama, gemar sedekah, menghormati yang lebih tua-menyayangi yang lebih muda, mempunyai sifat malu, dan akhlaq baik lainnya.

Berilmu
Rasulullah mengatakan bahwa “Mencari ilmu wajib hukumnya bagi tiap-tiap muslim” [shahih HR. Ibnu Majah], Allah pun berfirman “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?” [QS. Az-Zumar: 9], dan Imam Bukhari berkata “Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat”.

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa betapa pentingnya sebuah ilmu. Bahkan Allah memberi banyak keutamaan bagi orang yang menuntut ilmu, di antaranya adalah Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu [QS. Al-Mujadilah:11] dan Allah akan memudahkan jalan ke surga bagi orang yang berjalan untuk menuntut ilmu [HR. Muslim]

Sudah seharusnya kita banyak-banyak menuntut ilmu agar kita paham tentang banyak hal pula, sehingga kita mempunyai banyak dasar jika ingin melakukan suatu perbuatan. Kita tahu mana yang boleh/tidak boleh dan mana yang benar/salah. Contoh: sebelum menikah kita harus tahu ilmu berumah tangga (terutama tentang peran yang akan kita lakoni, yaitu sebagai isteri dan ibu), ketika berbusana kita harus mengetahui mana saja batasan aurat yang harus kita tutupi (bukan sekedar membungkus), ketika kita akan menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis kita harus tahu bagaimana tahapan yang seharusnya, dsb. Kelak, insyaAllah kita akan menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anak kita. Bagaiman jadinya kalau kita sendiri nggak punya ilmu yang bisa diajarkan?

Berdasarkan ilmunya, ada 4 kriteria manusia:
Orang yang TAHU dan TAHU bahwa dia tahu. Itulah orang ALIM, maka ambillah ilmu darinya
Orang yang TAHU dan dia TIDAK TAHU bahwa dia tahu. Itulah orang LUPA, maka ingatkanlah!
Orang yang TIDAK TAHU dan dia TAHU bahwa dia tidak tahu. Inilah orang yang MENCARI PETUNJUK, maka ajarilah!
Orang yang TIDAK TAHU dan dia TIDAK TAHU bahwa dia tidak tahu. Inilah orang BODOH, maka tinggalkanlah!
(Al-Ma'rifah wat Tarikh karya Abdurrahman Yusuf Ali Farhan, hlm 7)


Jangan sampai kita termasuk pada kriteria ke-4 yahh.. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya dan ajarkanlah pula ilmu tersebut kepada orang lain.

Ikhlas dan Bersyukur
2 hal ini yang akan menentukan kebahagiaan kita. Pasti di antara kita pernah melihat/bertemu dengan orang yang wajahnya selalu berseri-seri. Gimana rasanya? Enak ya.. Seger gitu kayaknya, seakan bikin kita kebawa senang mendadak kalo bertemu orang kayak gitu. Sebenanya orang kayak gitu bukan berarti dia nggak pernah punya masalah, melainkan ia mampu menghadapi masalah yang dihadapinya dengan ikhlas dan tetap bersyukur. Ia pun yakin bahwa segala solusi dari permasalahannya cukup dikembalikan saja pada Dia yang Maha Mengetahui.

Mungkin pengertian ikhlas yang banyak beredar adalah melakukan sesuatu tanpa mengharapkan apapun. Pengertian itu benar jika kita membicarakannya dalam konteks keduniaan karena jika pengertian tersebut adalah pengertian ikhlas secara utuh, maka tingkat amalan tertinggi akan dicapai oleh para kaum atheis yang tidak mengenal konsep ketuhanan. Jika kita membicarakan pengertian ikhlas secara utuh, maka ikhlas yang sesungguhnya adalah saat kita melakukan sesuatu dengan mengharapkan sesuatu yang amat besar. Sesuatu itu adalah ridha Allah. Dengan ridha Allah lah yang bisa memasukkan kita ke dalam surga sebagaimana visi kita sebagai makhluk ciptaan-Nya dan dengan ridha Allah pula yang dapat membukakan jalan pertolongan Allah saat kita berada dalam kesulitan dengan cara bertawashul. Simak kisah 3 pemuda yang bertawashul dengan amalannya di sini.

Tanpa ikhlas, niscaya akan banyak kekecewaan/kepahitan yang kita rasakan dalam hidup ini. Maka, cukup berharaplah pada Allah. Biarkan Ia yang mengatur segala episode hidup kita, Ia yang Maha Mengetahui jalan cerita terbaik bagi tiap-tiap hamba-Nya, termasuk cara Ia mendatangkan pertolongan.

Selain ikhlas, kita pun butuh bersyukur untuk menjadi pribadi yang senantiasa merasa bahagia. Mengeluh itu memang mudah, tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Jika kita mau benar-benar berpikir, seburuk apapun kejadian/musibah yang kita alami, banyak orang di luar sana yang punya kondisi lebih buruk dari kita. Contoh: ketika kita tidak puas dengan gaji serta sikap atasan di kantor, masih banyak di luar sana orang yang kekurangan dan menjadi gelandangan karena tidak punya pekerjaan; ketika mengalami kecelakaan dan kendaraan rusak parah sehingga butuh biaya banyak untuk memperbaiki, banyak korban kecelakaan yang nggak lagi dikasih umur sehingga meninggal di tempat kejadian; ketika kita merasa jengkel karena makanan yang dibeli tidak enak, banyak orang di luar sana yang untuk mendapatkan makanan pun harus mengais-ngais dari tempat sampah; dsb.

Seringkali yang terjadi adalah kita hanya terfokus pada kekecewaan/kesedihan/cobaan, padahal banyak nikmat Allah yang telah dikaruniakan pada kita. Tanpa bersyukur maka hidup kita akan terasa susah karena segala sesuatu yang diberikan selalu saja terasa tidak cukup.

“..Dan sungguh jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya..” [QS. Ibrahim: 34]
“Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan” [QS. Ar-Rahman]

Sebelum mengeluh, berpikirlah lagi tentang kondisi orang-orang yang punya kondisi lebih buruk dari kita. Dengan begitu, akan menjadikan kita senantiasa menjadi pribadi yang bersyukur. Jangan tunggu bahagia untuk bersyukur, tapi bersyukurlah untuk menjadi bahagia.

Butuh atau Ingin?!
Nah, ini nih gangguan yang nggak jarang menjangkit seseorang. Kalo kita nggak mawas diri, kata "Ingin" bisa menjelma menjadi sebuah kata "Butuh". Kita sebagai wanita yang nantinya akan menjadi manajer keuangan di keluarga sudah seharusnya melatih diri untuk bisa membedakan secara jelas manakah hal-hal yang memang kebutuhan dan manakah hal-hal yang merupakan keinginan. Kebutuhan adalah hal yang harus diutamankan karena keinginan adalah sesuatu yang nggak akan pernah ada habisnya. Jangan sampai kita mendahulukan keinginan semata, sementara untuk membeli kebutuhan menjadi kekurangan. Oh no.. itu nggak banget namanya, Galz!

Produktif
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bila kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi. Dan bila kamu berada pada waktu pagi, jangan nantikan waktu sore. Pergunakan masa sehatmu untuk menyongsong masa sakitmu, dan pergunakan masa hidupmu untuk menyongsong saat kematianmu” (HR.Bukhari)

So, buat yang suka males-malesan di kamar nggak tau mau ngapain.. Hayukk atuh jadi produktif. Kalau kita banyak diam syetan itu akan mudah mengganggu kita loh melalui tipu dayanya yang dibisikkan kepada kita, sehingga munculah pikiran-pikiran aneh. Makanya nggak jarang kalau kita kebanyakan diam itu malah bikin galau. Ya kan?!.. hehhee. Produktif itu bisa lewat apa aja koq. Baca, nulis, seminar, olahraga, bikin kerajinan, uji coba masakan, dll. pokoknya yang bermanfaat.

Istiqamah
Terakhir, jika semua karakter itu sudah dimiliki, maka kesemuanya itu harus dibalut dengan ikatan yang bernama istiqamah agar kekuatan karakter itu kokoh dan kuat. Mampu terus bertahan saat ada yang ingin menggoyahkan. Karakter inilah yang akan membuat seorang muslimah mampu menjaga semangat kemuslimahannya, walau ia diejek atau dijatuhkan sekalipun. Sesungguhnya Allah menguji keistiqamahan seseorang dengan memberinya kondisi-kondisi yang bertentangan. Dari situlah dapat dilihat apakah kita benar-benar memiliki karakter yang kuat atau tidak.

Sebagai orang Islam pegangan kita sudah jelas, yaitu Al-Qur'an dan Hadits. So, sudah seharusnya kita jadikan 2 hal itu sebagai dasar dalam segala aspek kehidupan kita. Simple sebenernya dan dalam berpegangan pun jangan cuma setengah-setengah. Hidup ini penuh gelombang mematikan kalau kita nggak punya pegangan yang kuat. Bayangkan saja kalau kita berada di tengah kapal yang diombang-ambing oleh ombak besar dan kita nggak berpegangan dengan benar-benar. Bisa dipastikan kita akan mudah tersentak ke lautan. Seperti itulah gambarannya.

Sebagai seorang muslimah, jadilah pribadi yang bisa memberi warna untuk sekitar, bukan menjadi pribadi yang dengan mudah terwarnai entah apapun warna yang terciprat. Kita harus tau mengapa kita melakukan sesuatu, jangan cuma biar keliatan gaul tapi malah menjadikan kita pribadi yang kurang baik atau tidak mencerminkan bagaimana seharusnya seorang muslimah. Sebelum melakukan sesuatu sudah semestinya kita bertanya kembali pada diri sendiri manakah tingkatnya yang lebih tinggi, hukum Allah atau hukum manusia? Manakah yang ingin kita capai, pandangan Allah atau pandangan manusia?

Mulai sekarang, banggalah menjadi seorang muslimah dengan segala bentuk aturan yang Allah tetapkan untuk kita. Karena itulah kita menjadi unik, karena itulah yang menjadi pembeda kita dengan wanita dari umat lain. Sesungguhnya Islam telah memuliakan kita dengan cara-Nya karena kita begitu berharga. So, kalau saya tanya "Are you Muslimah Berkarakter?". Semoga aja setelah baca tulisan ini sahabat-sahabat sekalian akan menjawab dengan lantang dan mantap "Yes, I' am!!.."

Monday, March 10, 2014

Ketika Dihadapkan pada Pilihan Karir



Udah lama kepengen banget nulis tentang tulisan yang mau saya tulis ini. Mungkin sejak beberapa bulan lalu. Tapi, biasalah.. lagi-lagi berbagai kesibukan lain yang membuatnya tertahan, bahkan saya udah lupa mau nulis tentang ini. Tiba-tiba aja semalem saya jadi keinget lagi gara-gara ngobrol sama salah seorang adik saya di masa kuliah yang luar biasa menggemaskan.. hahhaa. Saya sering bilang adik-adik saya itu menggemaskan karena mereka adalah makhluk yang sangat-sangat menggemaskan dengan sejuta keunikannya yang membuat hidup saya berwarna-warni. Entah, tanpa mereka kayaknya hidup saya bakal biasa-biasa aja. Bersyukur banget Allah mempertemukan saya dengan mereka. Kali ini adik saya itu bernama Rizky Oktavia Aftriandy.. ^_^

Ok, singkat cerita, semalem saya niat pamit mau tidur di tengah-tengah percakapan kita melalui chat FB karena waktu telah menunjukkan pukul 22.21 WIB, “Ki, tidur yuk!”. “Teteh duluan ajaa.. aku masih baca novel biar nggak stres besok”. “Widiiihh.. masih aja kamu doyan novel-novelan. Emang kalo nggak baca novel stres, ki?”. “Iya, teh. Pikiran sumpek.. kalo kaga komik ya novel. Apa lagi penghilang stres nya kiki? Selain itu, dengan baca novel kita jadi punya semacam harapan, teh. Barangkali memang hidup kita bisa seperti novel. Terus kita jadi mikirin jalan cerita di novel, jadi nggak kepikiran masalah hidup. Itung-itung pelarian sementara sebelum menghadapi perang lah, teh.. heheh”. Wah, ternyata dia belum berubah sedikit pun, tetep doyan baca novel dan berkhayal-khayal tentang cerita yang ada di dalemnya. Deuuhh.. Kio.. Kio..

Terus saya bilang deh, “Coba sekali-kali kamu nulis, Ki. Nulis itu penghilang stres yang luar biasa loh!”. Lucunya dia malah jawab, “Iya, teh. Sebenarnya aku pengen sih jadi penulis novel aja. Tapi nggak sesuai sama cita-cita dan lagu hymne IM Telkom yang nyuruh kita jadi manajer”.. hahahaa ada-ada aja. Nih saya kasih potongan lirik hymne kampus tercinta, IM Telkom  yang sekarang udah jadi Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Telkom.

“Cita mulia hasrat menggapai bintang
Semangat karya yang penuh makna juang
Wujudkan bakti membangun nusa bangsa
Persada makmur sejaht’ra bahagia

Dengan tridarma pedoman nan hakiki
Penerang jalan menempa diri pribadi
Menjadi insan manajer handal mandiri
Sanggup menata dunia usaha negeri”

Di situ emang disinggung-singgung tentang jadi manajer karena background IM Telkom sendiri sejak awal didirikan emang berbasis manajemen bisnis.. hahhaaa. Nah, gara-gara percakapan ini saya malah jadi cerita panjang kali lebar plus diskusi deh sama dia sampai dini hari.

Ok, cukup pendahuluannya ya. Bisa-bisa tambah panjang kalo nyeritain kekocakan percakapan saya sama adik saya yang satu itu.. he. Jadi, kali ini tuh saya mau cerita tentang impian besar saya. Mungkin ini akan sedikit terdengar lebay atau ekstrem bagi yang jarang mendengarnya karena jujur waktu saya pertama kali mendengarnya pun saya merasa agak sedikit aneh.

Waktu saya SMA, ada salah seorang guru yang nanya ke saya nanti kalau sudah besar saya mau jadi apa? Dengan polosnya ya saya bilang kalau saya mau jadi karyawan di suatu perusahaan ternama atau menjadi seorang pengusaha sukses. Kemudian beliau bilang bahwa pekerjaan terbaik seorang perempuan itu adalah seorang ibu rumah tangga dan beliau kagum kalau ada perempuan yang bercita-cita menjadi seorang ibu rumah tangga. Wow?! Si gw langsung kaget dong. Meski saya nggak menyangkal kalau jadi ibu rumah tangga itu adalah suatu pekerjaan yang mulia. Tapi, kalau itu dijadikan sebuah cita-cita apa nggak lebay yah?? Ya, itulah pemikiran saya waktu itu. Apalagi yang ditanamkan dalam keluarga saya itu kalau besar nanti harus sukses.. sukses.. Melihat orangtua saya yang sibuk berkarir di dunia kantoran ditambah mainstream yang sudah berkembang di Indonesia saat ini bahwa yang namanya sukses itu seolah hanya jadi karyawan sebuah perusahaan, otomatis saya yang notabene masih dalam pencarian jati diri pun beranggapan bahwa kelak saya harus jadi wanita karir. Saya nggak mikir mau laki-laki, mau perempuan, pokoknya kudu' berkarirlah.

Setelah ditelaah kembali, mainstream yang berkembang itu sebenarnya merupakan hasil dari didikan feminisme yang menganggap wanita modern harus lebih mirip laki-laki, bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan. Feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses. Wajar bila mereka merasa dunia tidak adil karena materi jadi penanda sukses. Feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai sosok yang punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat, dll. Menurut pandangan feminis, ibu rumah tangga itu adalah bentuk perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita" (Ust. Felix).

Saat saya masuk di dunia perkuliahan, saya pun beberapa kali berdiskusi dengan sahabat-sahabat saya. Dari diskusi tersebut ada yang mengatakan berdasarkan nasihat yang pernah didapatkannya bahwa seorang perempuan tidak akan bisa sukses di kedua-duanya (ibu rumah tangga dan karir). Dengan kata lain, harus ada satu yang dikorbankan jika ingin mencapai kesuksesan pada salah satunya. Saat seorang perempuan sukses dalam berkarir, maka ia tidak akan sukses sebagai ibu rumah tangga. Pasti ia tidak bisa secara totalitas dalam hal mengurus keluarga, terlebih lagi dalam mendidik dan mengetahui perkembangan anak-anaknya. Dan jika seorang perempuan ingin sukses sebagai ibu rumah tangga yang selalu ada, mengikuti perkembangan, mendidik, dan memberikan perhatian penuh untuk anak-anak maupun suami, maka ia harus mengorbankan karirnya.

Hati saya bergejolak hebat saat mendengar kalimat itu. “Hei.. hei.. No, I’m totally disagree with that!!”, saya berkata dalam hati saya. Rasanya saya belum bisa menerimanya. Gimana nggak, wong karir itu adalah impian besar saya. Masa tiba-tiba saya harus mengurungkan impian saya itu?! No.. No.. Pada tahap itu saya banyak memberikan pembenaran-pembenaran bahwa bisa koq balance dua-duanya selama blablabla.

Suatu waktu, saya memiliki waktu lebih untuk merenung dan berpikir secara mendalam. Lebih pentingnya lagi adalah untuk bisa berkata jujur pada diri sendiri, bukan terus-menerus hanya mencari pembenaran, melainkan menemukan sebuah kebenaran. Saya merenung menganalisis mulai dari hubungan internal dalam keluarga saya sendiri, kemudian beralih kepada contoh-contoh real dari keluarga-keluarga terdekat (om, tante, sahabat, sampai ustadz/ ustadzah). Perenungan itu dikuatkan pula dengan musibah yang sempat menimpa keluarga saya. Dari perenungan itu saya menemukan bahwa terdapat perbedaan yang jelas. Sejak saat itu, barulah saya mempunyai impian, I Want to be a True Housewife. Selain jadi ibu rumah tangga, saya bisa terus produktif menjadi penulis. Nulis-nulis di blog, berbagi apapun yang bisa bermanfaat. Syukur-sukur dikasih kemampuan dan rezeki bisa bikin buku.. Aamiiin.

Kenapa jadi ibu rumah tangga? Karena sebagai orangtua (kelak) kita harus menyadari bahwa kita nggak bisa maksain pemikiran ke anak kalau mereka harus ngerti bahwa orangtuanya itu sibuk banting tulang nyari duit juga karena sayang, demi kesejahteraan si anak. Udah nggak bisa dipungkirilah kalo yang namanya kasih sayang orangtua itu unlimited. Tapi pernah nggak denger ungkapan gini, "Niat aja tuh nggak cukup, tapi harus ada aplikasinya". Nah, sama juga halnya dengan kasih sayang. Yang dibutuhkan seorang anak itu bukan cuma "rasa" yang dirasakan sama orang tuanya aja. Anak itu butuh aplikasinya yang mereka rasakan sebagai hubungan personal. Makanya, baiknya mah biarkan suami yang sibuk banting tulang, sebagai perempuan kita yang memperhatikan, mendidik, dan mengarahkan anak. Kalau bukan kita, terus siapa?? Itu kan anak kita, bukan anak pembantu.. Tapi suami juga bukan berarti lepas tangan gitu aja. Ibu emang nomor satu dalam hal mengurus anak, tapi ayah juga harus ikut ambil andil biar tetep punya hubungan personal dengan si anak. Setidaknya anak merasakan adanya kehadiran sosok seorang ayah, bukan sosok pemberi uang semata.

Berhubung mainstream yang berkembang bahwa ibu rumah tangga seakan pekerjaan yang nggak berharga, mungkin sering kita dengar, “Sayanglah sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya koq cuma jadi ibu rumah tangga?!”. Hahhaa.. lo pikir ngedidik anak nggak pake ilmu? Dengan kuliah itu melatih/mengembangkan pola pikir kita. Kenapa perusahaan lebih suka ngambil lulusan S1 buat dijadiin staf? Karena pola pikir lulusan S1 memang berbeda dengan lulusan SMK atau D3. Bukan maksud untuk mendeskriminasikan, tapi kenyataannya memang seperti itu. Pendidikan antara SMA, SMK, D3, S1, S2, S3 itu punya tujuan yang berbeda-beda, sehingga pola pendidikan yang diberikan pun berbeda. Sebagai contohnya, pendidikan pada program D3 lebih ditekankan pada praktek, sementara pendidikan pada program S1 ditekankan pada analisis teori dan kasus. So, pola pikir yang terbentuk dari lulusannya pun akan berbeda. Nah, pola pikir yang kita punya itu bakal ngaruh dong sama cara kita ngedidik anak. Jadi semakin tinggi pendidikan yang kita punya harusnya semakin bangga buat jadi ibu rumah tangga karena makin banyak bekal imu yang bisa kita manfaatkan untuk membina keluarga.

Terus ilmu akademiknya buat apa?? Hoho.. banyak. Contohnya saya adalah lulusan manajemen bisnis. Emang di keluarga itu nggak butuh perencanaan keuangan? Ilmu logistik buat persediaan kebutuhan keluarga? Kemampuan komunikasi buat interaksi sama suami dan anak? Perencanaan jangka panjang? Leadership buat ngebimbing anak? Kemampuan analisis harga? dsb. Perlu kan? Ilmu itu ada semua tuh di program manajemen bisnis yang udah saya dapet. Jadi, nggak akan ada yang sia-sia koq dari apa yang udah kita pelajari selama apa yang kita niatkan itu baik. Pasti akan selalu bermanfaat kalau kita mau terus mengusahakannya.  So, masih bilang kuliah tinggi-tinggi itu sia-sia kalau cuma jadi ibu rumah tangga? Justru keren ibu rumah tangga yang punya pendidikan tinggi. Itu namanya Ibu rumah tangga cerdas. Wong ilmunya juga buat keluarga sendiri koq sia-sia tuh gimana??

Terus berkaitan dengan mainstream tadi, mungkin ada yang setuju 100% dengan pemikiran saya ini, tapi pasti ada juga yang kurang setuju. Oleh karena itu disini saya ngasih pilihan pekerjaan yang bisa dijadikan sebagai alternatif. Sebelumnya saya sempet bekerja kantoran di salah satu provider telekomunikasi ternama. Pergi pagi pulang malam. Dari situ saya mikir, waduh kalau hari-hari saya kayak gini paling bisa ketemu anak cuma Sabtu-Minggu doang. Gimana mau deket sama anak? Apalagi saya juga punya pengalaman pribadi yang udah merasakan hal seperti itu. Saya berpikir sepertinya kerja kantoran kurang cucok buat perempuan yang mau mendedikasikan dirinya buat keluarga. Akhirnya ada beberapa jenis pekerjaan yang saya rasa bisa dijadikan pilihan, yaitu entrepreneur, guru, dan PNS. Tapi tetap ibu rumah tangga is the best. Sebisa mungkin harus diusahakan bahwa peran kita adalah sebagai fulltime-mother.

Kenapa bisnis? Karena kalau kita punya bisnis sendiri kan aturannya kita yang buat sendiri, bisa lebih fleksibel. Setidaknya pagi-pagi bisa bercengkrama dulu sama anak terus nganterin sekolah. Abis itu baru mulai operasional. Anak pulang sekolah bisnisnya bisa dijalanin sama orang (pekerja kita). Laporannya besok pas ketemu lagi untuk memulai hari. Atau bisa juga selang-seling sehari full jagain usaha, sehari full di rumah. Pokoknya bebas buat ngatur jadwal sendiri. Selain itu, dengan bisnis kita bisa ngasih manfaat dengan membuka lapangan pekerjaan buat orang lain. Kerennya lagi, otak cemerlang dan energi yang kita korbankan itu kita gunakan untuk membangun bisnis milik kita, bukan bisnis orang lain layaknya kita bekerja jadi pegawai kantoran. Lebih yahud lagi nih kalau bisnisnya itu bisa bareng suami. Ahh.. so sweet.. so beautiful.. Kalo ini bener-bener impian gw banget. Mungkin salah satu alasan saya belum juga mulai berbisnis karena Allah maunya saya punya partner hidup dulu kali yah #ehh #gagalfokus

Jadi inget dulu pernah bilang gini ke temen saya (e'el), "El, aku pengen banget deh punya suami orang entrepreneur. Dengan begitu kan jadi punya pilihan terbaik buat ngejadiin partner bisnis". Terus dia bilang, "Bukan pekerjaannya kali ya, syif. Tapi, semangatnya. Bisa jadi sekarang dia juga lagi kayak kamu, punya semangat buat entrepreneur, belum punya usaha, tapi nungguin seseorang juga buat dijadiin partner". Ahhaa.. bisa jadi.. bisa jadi..

Terus kenapa guru? Karena dengan jadi guru kita bisa menyebarkan ilmu yang udah jelas bermanfaat buat sekitar. The true teacher itu bukan hanya yang bisa mengajarkan tentang ilmu akademik, melainkan juga tentang ilmu kehidupan. Dengan jadi guru kita juga bisa menggunakan otak kita setiap hari untuk berpikir (baca materi sebelum ngajar, menilai tugas-tugas murid, memperhatikan presentasi dari murid, diskusi kasus, dll), dengan kata lain kita bisa melatih otak kita sehingga nggak tumpul. Saya pribadi seneng banget yang namanya berbagi, saya pengen menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Penghasilan jadi guru juga lumayan, load pekerjaannya juga nggak terlalu berat dan monoton kayak di kantor-kantor yang kerjaanya banyak dan kayak robot gitu-gitu terus. Jadinya masih banyak sisa energi yang bisa digunakan untuk mencurahkan perhatian buat suami dan anak tercinta.

Kalau PNS itu karena jam kerjanya cuma sampai jam 3 sore. Walau cuma beda 2 jam sama jam kantor pada umumnya, tapi itu bisa ngaruh banyak karena jam segitu jalanan belum terlalu macet. Sampai rumah lebih awal, masih punya lebih banyak energi. Kalau pulang jam 5 sore, pada akhirnya malah bisa selisih 4 jam karena harus berkutat dengan macetnya jalanan. Udah capek di kantor, tambah lagi capek di jalan, sampai rumah energi habis. Mau merhatiin anak juga udah nggak maksimal. Ujung-ujungnya paling cuma nanya aja ke orang di rumah "Gimana si adek? Tadi ngapain aja?" dll. Abis itu udah..

Wah, ternyata panjang juga ya. Saya nggak nyangka kalau bakal sepanjang ini tulisannya. Sebenernya ini cuma banyolan saya tentang impian saya sih. Kenyataannya mah pasti bakal disesuaikan dengan kondisi yang nanti saya alami. Tapi, boleh kan kalau saya bermimpi. Karena pada kenyataannya pun, justru banyak orang yang untuk sekedar bermimpi saja mereka tidak berani, seperti saya di dahulu kala. Siapa tau dengan impian saya ini prinsip dari law of attraction itu bekerja. Bermimpilah sambil tetap upgrading diri dan biarkan Allah yang menghimpun serpihan mimpi-mimpi kita dengan cara-Nya. Syukur-syukur lagi ada yang ngedo’ain dan mengaminkan agar impian saya ini untuk terwujud.. Aamiiin. Semoga tulisan ini bermanfaat.


Baca juga: Wahai Perempuan! Kunci VMJ Itu Ada Pada Mu..

Friday, February 21, 2014

Wahai Perempuan! Kunci VMJ Itu Ada Pada Mu..



Dulu sewaktu saya masih kuliah, saya dapat sebuah nasihat dari salah seorang guru saya. Beliau mengatakan, “Perempuan lah yang menentukan terjadinya sebuah pelanggaran”. Pelanggaran di sini maksudnya keterjangkitan penyakit pada sepasang laki-laki dan perempuan akibat Virus Merah Jambu (VMJ) sehingga melakukan hal-hal yang menyimpang dengan ketentuan Allah. Ucapan itu membuat saya terus menerus berpikir keras dan agak nggak terima sebenernya, “What?! Perempuan? Loh koq gitu? Bukannya justru laki-laki yang suka godain perempuan ya? Yang suka ngedeketin duluan juga kan laki-laki, yang nyatain perasaan duluan ngajak jalin hubungan dengan si perempuan kan laki-laki. Coba kalau laki-lakinya bisa jaga hati, nggak suka godain, nggak ngajak berkomitmen yang apalah namanya kan nggak bakal terjangkit VMJ”. Tentu bagi perempuan yang udah mati-matian  menjaga dirinya nggak bakal terima juga mendengar kalimat tersebut. Hal ini yang kemudian coba saya pahami kurang lebih selama 4 tahun. Selama 4 tahun itu saya pun mengalami berbagai kejadian.

Ok, saya tidak mengatakan bahwa saya bersih dari noda-noda VMJ tersebut. Saya pun pernah terkena serangannya, nyaris terinfeksi. Bagaimana bisa? Ya, karena VMJ ini hidup bekerja sama dengan suatu senyawa bernama nafsu. Nafsu itu sendiri sudah mematikan, apalagi ditambah VMJ, Galz. Ia tidak terasa, tidak terlihat, tapi begitu mematikan karena ia begitu melenakan. Namun sebelum VMJ itu menjangkit lebih parah lagi, saya bersyukur selalu diingatkan oleh-Nya.

Dulu jaman-jaman saya kuliah, jaman-jamannya aktif di sana-sini. Otomatis banyak berkomunikasi dengan orang-orang dan tidak menutup kemungkinan untuk berkomunikasi dengan lawan jenis jika dibutuhkan. Saat itu lah syetan mulai memainkan tipu dayanya untuk menyebarkan VMJ. Terkadang kalau kita nggak mawas diri, komunikasi dengan lawan jenis itu bisa dengan mudah disimpangkan oleh makhluk itu ke jalan dimana terdapat bibit-bibit VMJ. Layaknya sebuah virus pada umumnya, saat VMJ itu bertemu dengan sesuatu yang bisa menjadi inang nya, maka ia akan hidup dan mulai menginfeksi sang inang. Saat itu lah yang saya sebut dengan serangan VMJ. Saking melenakannya serangan VMJ, saat saya diteriakin sama Dia “Wake up! Sadar, Syif!!” saya sampai kaget tercengang-cengang dan baru lah saya sadar, “Wow! Apa nih?! Koq saya sama dia jadi deket banget gini?! Harusnya kan nggak kayak gini”, seakan nggak sadar kalau udah berjalan terlalu jauh. Astaghfirullah. Setelah saya sadar, alhamdulillah keadaan bisa segera kondusif kembali. Siapa yang memutus rantainya? Saya, ya saya sebagai perempuan. Lebih tepatnya bukan saya sih sebenernya, tapi Dia yang masih sayang sama saya dan nggak mau saya sakit. Dia yang ngasih saya kesadaran, Dia yang selalu menjaga saya, Dia yang mengokohkan benteng petahanan saya, Dia dan Dia.

Selain itu saya pun memperhatikan beberapa sahabat saya. Saya perhatikan bagaimana mereka menyikapinya. Kejadiannya pun bervariasi. Ada yang jebol pertahanannya, mereka lah yang pada akhirnya terinfeksi VMJ. Ada juga yang tetap kokoh tak terkalahkan sampai akhirnya menikah, mereka lah yang senantiasa menjaga hatinya dan menangkis segala serangan-serangan VMJ. Alhamdulillah masyaAllah. Sebenarnya saya kurang PD untuk menuliskan hal ini karena saya sendiri masih dalam masa pencarian. Kan enaknya itu kalau nulis gini udah berdasarkan true story sendiri gitu. Jadinya bisa nulis cerita secara full sampai akhir kisah..ceilah. Tapi saya pikir lagi, keburu lupa sama ide nulisnya, keburu feel nya ilang juga. Selama niatnya baik dan dalam diri kita punya kemauan yang kuat untuk terus belajar memperbaiki diri, I think it’s Fine. So, I write this. Lagipula saya punya contoh suksesnya koq dari sahabat-sahabat saya itu..hehe

Well, lalu apa maksudnya tulisan ini? Jadi, akhirnya saya menemukan jawabannya tentang nasihat dari guru saya di paragraf pertama di atas. Ternyata nasihat itu memang 100% benar. Kita lah (perempuan) yang memegang kunci penyebaran VMJ. Ya, kita Galz. Saat kita punya antibodi yang kuat, seperti apapun bentuk serangan virus yang dibawa oleh sang adam, insyaAllah virus tersebut mampu kita kalahkan sehingga tidak sampai menginfeksi hati kita ke tahap lebih lanjut. Serangan VMJ dari kaum adam itu bisa kita ibaratkan ketika ada seorang sales yang datang ke rumah untuk nawarin barang-barang atau kartu kredit. Maka kita yang memegang kunci rumah, kita lah yang menentukan akankah kita biarkan sales tersebut masuk ke dalam rumah kita atau tidak. Saat kita terbawa tipu daya syetan, bisa saja pintu itu kita buka dan kita biarkan sales tersebut menawarkan produk-produknya di depan pintu tanpa menyuruhnya masuk. Saat kita mulai termakan omongan-omongan si sales, saat itu lah kondisi dimana kita mulai terlena dan kalau kita nggak cepet-cepet sadar yang ada ya kita melakukan apa yang disuruh sama si sales. Abis itu bingung deh, “Ngapain ya tadi saya beli barang ini?”. Nah Loh!

Coba bayangkan jika kita tidak menjaga diri kita, coba jika kita tidak memberikan benteng yang tinggi, coba jika kita tidak begitu keras memberikan antibodi VMJ, maka virus tersebut akan dengan mudah menjangkit kita beserta para lelaki yang datang menggoda atau mendekati kita dan kemudian virus tersebut bermetamorfosis menjadi sebuah hubungan yang tidak halal, tanda infeksi telah berada dalam tingkatan akut. Tidak halal di sini bukan berarti zina secara nyata yah, Galz. Melainkan segala bentuk hubungan atau komitmen bersama selain menikah karena dalam islam nggak mengenal kata pacaran, teman tapi mesra (TTM), ataupun hubungan tanpa status (HTS). Ada sih pacaran yang islami. Mau tau caranya? Caranya nikah dulu baru deh pacaran..hahhaa.

Jika kita berpikir bahwa mereka (kaum adam) dong yang harusnya memperlakukan kita dengan mulia, bukan malah menggoda kita. Mereka dong yang harusnya nggak pake ngungkap-ngungkapin perasaan kalau emang belum siap nikah, dsb. Tapi sadarkah, bahwa perempuan itu diciptakan dengan daya tariknya masing-masing. Bukan narsis. But, It’s true. Entah itu keceriaannya, kemampuan menginspirasinya, keistiqamahannya, perhatiannya, keterampilah masaknya, prestasinya, dan masih banyak lagi yang bisa menjadi daya tarik seorang wanita bagi seorang lelaki.

So, kita lah yang menentukan akan berlanjut kah suatu infeksi VMJ atau tidak. Tugas kita adalah jangan pernah memberi celah kepada mereka (kaum adam) untuk menularkan VMJ pada kita. Kita lah yang harus membantu mereka untuk menjaga hati. Jika mereka tersesat dan sampai pada pintu yang salah, arahkan mereka pada pintu yang benar. “Mas-mas, mohon maaf pintu ini disegel, kalau mau masuk rumah ini silahkan lewat pintu yang itu, di situ ada ayah saya yang ngejagain pintunya, silahkan minta ijin beliau dulu kalau mau masuk”.

Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dari perbuatan-perbuatan maksiat. Menikah, membina sebuah keluarga adalah ibadah. Tentu merupakan hal yang baik. Maka sudah semestinya kita menggapainya pun melalui cara yang baik agar hasilnya penuh dengan keberkahan. Jika kebaikan yang dicapai dengan sebuah kemaksiatan, maka akan hilang lah keberkahannya. Saya yakin bahwa seseorang yang menjaga agamanya, maka Allah akan memberikan ia jodoh terbaik pilihan-Nya. Saya yakin bahwa segala peraturan yang telah ditentukan Allah pasti memiliki kebaikan yang segalanya akan indah pada waktunya. Sayangnya keyakinan seperti ini kian memudar pada anak muda jaman sekarang, meskipun yang memegangnya kuat-kuat pun masih ada.

Hei, Galz! Menanti datangnya jodoh itu termasuk dalam sebuah ujian. Dan Allah tidak akan memberikan suatu ujian di luar batas kemampuan kita. Jika Allah belum meberi kita jodoh hingga saat ini, bersabar lah. Itu berarti Allah tau bahwa kamu masih mampu untuk bersabar.

Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata kami beriman, padahal mereka belum diuji (QS. Al-Ankabut: 2)
..Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang patut diutamakan (QS. Ali-Imran: 186)
Hai orang-orang yang beriman, bersabar lah dan kuatkan lah kesabarab mu.. (QS. Ali-Imran: 200)


Hai Wanita!
Jadilah seperti bunga mawar yang tak sembarang orang dapat menyentuhmu..
Kau mekar indah,namun keindahan tersebut kau berikan hanya untuk sang pemilik bunga yang berani memetikmu langsung dari batangmu..
Ia memetikmu dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran..
Ia tahu bahwa dibalik duri-durimu sesungguhnya terdapat keindahan yang mempesona..

#Karena Kamu Begitu Berharga#